Menjadi Penguasa Menurut Niccolo Machiavelli

Riwayat Hidup

Niccolo Machiavelli lahir pada tangal 3 Mei 1469 di Firenze dari sebuah keluarga pengacara bernama Bernardo. Ia mendapatkan pendidikan yang cukup bagus dari ayahnya yang berasal dari keluarga bangsawan. Pada masa itu Kota Firenze berada di bawah kekuasaan Lorenzo Medici yang cakap dalam memegang negara. Ia tidak hanya menjadikan Kota Firenze sebagai pusat perdagangan, tetapi menjadikannya pusat gerakan Renaissance.

Setelah Lorenzo wafat, ia digantikan oleh anaknya yang tidak cakap dalam memimpin pemerintahan. Firenze bergejolak dan akhirnya kekuasaannya dikudeta oleh Savoranola, seorang pemimpin biara Dominikan di Firenze. Ternyata masa pemerintahannya hanya bertahan selama empat tahun, kemudian digantikan oleh Sonderini dan terbentuklah Republik Firenze.

Sonderini adalah sahabat Machiavelli, sehingga pada masa pemerintahannya, Machiavelli diangkat menjadi sekretaris merangkap anggota majelis sepuluh. Jabatan ini memungkinkan Machiavelli member masukan dalam operasi militer dan mengirim duta atau diplomat Firenze ke Negara-negara tetangga. Selama empat belas tahun ia menjadi politikus praktis dan beberapa kali berperan sebagai diplomat atau penjabat negara[1].

Tahun 1512 keluarga Medici kembali dari pengungsian untuk merebut Firenze dari tangan Sonderini. Penaklukan ini membuat Machiavelli diberhentikan dan kemudian dipenjarakan. Namun dengan bantuan dari sahabatnya yang masih berpengaruh, ia dibebaskan dari masa hukuman. Kemudian, ia menghabiskan sisa hidupnya di sebuah perkebunan kecil miliknya di luar Kota Firenze bersama dengan istri, Marietta Corsini dan enam orang anaknya. Machiavelli meninggal pada tahun 1527.

Niccolo Machiavelli hidup ketika Italia masih terpecah-pecah ke dalam lima negara, yaitu: Roma, Milan, Firenze, Napoli, dan Venesia. Seusai Perang Salib, kelima negara ini berkembang menjadi kota-kota perdagangan yang sangat maju di seluruh Eropa, tetapi juga menjadi kota-kota yang selalu bergejolak. Pada masa ini pemimpin dipandang bukan sebagai orang yang kepadanya dipercayakan kekuasaan oleh kuasa ilahi seperti pada abad pertengahan. Bersamaan dengan hal ini agama (Gereja) juga mulai kehilangan pengaruhnya karena berkembangnya pemikiran Renaissance yang menjadikan manusia sebagai subjek.

Kenapa Kekuasaan Mudah Runtuh?

Masa-masa bergejolak yang selalu menghiasi negara-negara Italia benar-benar merisaukan hati Machiavelli yang merindukan Italia sebagai negara kesatuan tak terpecah-pecah. Selama masa pengasingannya ia mulai mempertanyakan “mengapa kekuasaan mudah runtuh?“ dalam permenungannya ia berpendapat bahwa negara akan aman dan bertahan lama bila penguasanya kuat. Untuk itu seorang penguasa tidak cukup berwatak pemberani, gagah perkasa, apalagi hanya mengandalkan nasib mujur. Ia harus penuh perhitungan dan lihai menggunakan segala kesempatan[2].

Hasil pemikiran ini ia bukukan secara sistematis dalam Il Principle (Sang Penguasa) yang menjadi buku yang penuh kontroversial. Buku ini merupakan hadiah yang ditujukan bagi penguasa Firenze, Giovanni de Medici. Namun pada akhirnya buku ini jatuh ke tangan keponakannya Lorenzo.

Sosok Penguasa

Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa haruslah bisa menyatukan watak singa dan rubah sekaligus. Dengan menjadi singa, penguasa akan disegani karena kekuatannya, namun kerap kali tidak bisa menghadapi perangkap dari bawahannya. Sedangkan dengan menjadi rubah, penguasa dapat menghadapi perangkap tapi tidak bisa membela diri dari serangan serigala. Melalui perumpamaan singa dan rubah, Machiavelli ingin menyampaikan bahwa seorang penguasa perlu menggunakan cara-cara yang licik dan kejam untuk menjaga kekuasaanya.

Selain itu seorang penguasa harus mengandalkan virtue (keutamaan) daripada terus berharap pada fortune (keberuntungan). Machiavelli memandang virtue sebagai sikap aktif seorang pemimpin dalam menjalankan kebijakan-kebijakan politiknya sehingga kekuasaan dapat bertahan. Maka, seorang penguasa harus mengembangkan ketrampilan  dan kemampuannya dalam mengendalikan negara daripada hanya sekadar berharap pada keberuntungan semata. Bagi para penguasa keberuntungan hanyalah suatu kesempatan yang harus digunakan oleh seorang penguasa. Sebab, tujuan utama seorang penguasa adalah mempertahankan dan mengembangkan kekuasaannya.

Mempertahankan Kekuasaan

Menurut Machiavelli, suatu negara yang kuat harus memiliki militer yang kuat dan sistem hukum yang kuat pula. Kedua hal ini akan melindungi suatu negara dari kehancuran. Negara tanpa kekuatan militer yang kuat, penegakan hukum tidak akan dipatuhi. Ketangguhan militer didapat dari kedisiplinan yang tinggi, sehingga akan memberikan dampak yang baik bagi pelaksanaan hukum negara. Selain itu, tentara harus dibentuk oleh rakyatnya sendiri karena tentara rakyat lebih setia dalam mempertahankan kekuatan suatu negaranya.

Akhirnya, seorang penguasa harus bertindak berdasarkan situasi nyata yang sedang dihadapi dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi. Termasuk bila situasi nyata yang harus dihadapi mengharuskan penguasa menggunakan kekuatan militer terus-menerus.

Daftar Pustaka

Benedanto, Pax. Politik Kekuasaan Menurut Niccolo Machiavelli. Jakarta: KPG, 1997.

Machiavelli, Niccolo. Sang Penguasa. Pengantar oleh M. Sastrapratedja dan Frans M. Parera.       Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Sularto, ST. Niccolo Machiavelli Penguasa Arsitek Masyarakat. Jakarta: Penerbit Kompas,            2003.


[1] Niccolo Machiavelli. Sang Pangeran. Pengantar oleh M. Sastrapratedja dan Frans M. Parera. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama, 1999, hlm. xxii

[2] Pax Benedanto. Politik Kekuasaan Menurut Niccolo Machiavelli. Jakarta: KPG, 1997, hlm. 29

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: