Anselmus Canterbury:Proslogion

Kalau kita mempelajari filsafat abad pertengahan, maka yang dibicarakan adalah mengenai pemikiran dan sistem-sistem filsafat yang dipelajari dalam rentang antara akhir abad VII sampai pada akhir abad XVII. Pada awalnya memang ada pandangan yang menilai bahwa filsafat abad pertengahan tidak layak untuk dipelajari karena filsafatnya tidak dapat dibedakan daripada teologi. Apalagi tokoh filsafat abad pertengahan hampir seluruhnya adalah para rohaniwan dan biarawan Gereja Katolik yang menjadikan agama Kristiani sebagai dasarnya. Namun, filsafat abad pertengahan menjadi menarik untuk diperbincangkan karena tema-tema yang diangkat mengenai hubungan antara iman yang didasarkan oleh wahyu Allah dalam Kitab Suci dan pengetahuan yang didasar oleh akal budi manusia.

Memasuki periode skolastik, muncullah tokoh-tokoh besar yang menghiasi perkembangan pemikiran filsafat abad pertengahan. Salah satunya adalah Anselmus dari Canterbury yang berupaya membuktikan adanya Allah berdasarkan rasio murni. Melalui tulisan singkat ini kita akan mencoba mengenal pemikiran dari tokoh besar ini.

Riwayat Singkat

Anselmus adalah anak seorang bangsawan yang lahir pada tahun 1033 di Aosta, Italia. Anselmus mendapatkan pendidikan rohani untuk pertama kalinya dari ibunya. Sebagai anak yang besar di daerah pegunungan ia mempercayai cerita-cerita yang mengisahkan tentang Allah yang menguasai segala sesuatu berada di puncak gunung yang tinggi. Pada saat usianya dua puluh tujuh tahun ia bergabung dengan biara Benediktin di Bec, Normandia. Tahun 1079 ia menjabat sebagai abas sampai pada tahun 1093, kemudian ia diangkat menjadi Uskup Agung di Canterbury Inggris. Ia meninggal pada tanggal 21 April 1109 dan dikanonisasi pada tahun 1494. Pada masa hidupnya ia berusaha membuktikan adanya Allah dalam dua karya terbesarnya yaitu Monologian dan Proslogion melalui dua cara yang berbeda.

Proslogion

Proslogion (atau Percakapan) adalah salah satu buku Anselmus yang memuat pembuktian ontologis mengenai adanya Allah. Ia berusaha membuktikan adanya Allah dengan menyajikan argumen dalam bentuk silogisme. Anselmus mempercayai bahwa akal budi mampu membawa manusia pada kebenaran iman yang sejati. Melalui buku Proslogion, Anselmus mau membuktikan bahwa iman Kristiani dapat dijelaskan secara rasional.

Anselmus mengawali buku Proslogion dengan sebuah doa sebagai pengantar. “Ajari aku untuk menemukan-Mu, dan tunjukkanlah diri-Mu kepada mereka yang berusaha mencari-Mu, sebab aku tidak akan bisa menemukan-Mu jika bukan karena Engkau sendirilah yang mengajari aku bagaimana caranya. Dan aku tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, melainkan aku percaya agar bisa memahami”[1].

Argumen ini disajikan dalam bentuk silogisme sebagai berikut:

–          Nama “Allah” adalah sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan.

–          Hal yang terbesar bukan hanya berada dalam pemikiran, tetapi juga berada dalam kenyataan.

–          Kesimpulannya:

Allah tidak hanya dalam pemikiran tetapi juga dalam kenyataan.

Jadi, Allah sungguh-sungguh ada.

Melalui argumen silogisme ini Anselmus mau menjelaskan bahwa dalam premis mayor terdiri atas definisi tentang Allah sebagai sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan (aliquid quo maius nihil cogitari potest). Setinggi, sejauh, dan sedalam apapun kemampuan berpikir manusia, Allah adalah yang paling tinggi, paling jauh, dan paling dalam dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan manusia[2].

Menurut premis minor, orang tidak dapat memikirkan pengada yang tidak dapat dipikirkan lebih besar itu tanpa memikirkan pengada tersebut sebagai sesuatu yang ada dalam kenyataan. Karena itu seseorang tidak dapat memikirkan suatu pengada yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang ada dalam kenyataan.  Allah pasti ada dalam kenyataan maupun dalam pikiran.

Lalu bagaimana membuktikan bahwa argumen ini benar-benar menjawab pertanyaan mengenai keberdaan Allah. Kalau kita mendengar pernyataan bahwa Allah adalah sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan, kita akan menangkap suatu pemahaman dari kata-kata ini, yaitu pemahaman mengenai objek yang ada dalam pemikiran. Maka, kenyataan bahwa pengertian Allah itu mampu dimengerti dan ditangkap dalam pemikiran manusia menunjukkan bahwa Allah itu ada, setidaknya ada dalam pikiran.

Selanjutnya, jika Anselmus menyatakan bahwa Allah itu ada, maka apakah keberadaan Allah itu nyata atau hanya ada dalam pikiran. Dalam menjawab pertanyaan ini Anselmus mencoba menjelaskan bahwa jika seseorang berpikir tentang sesuatu, tentunya sesuatu itu juga ada di dalam kenyataan. Suatu pemikiran mengandaikan adanya objek di luar dari pemikiran itu. Jadi, jika kita memahami Allah sebagai sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan itu ada, kita pun harus menerima bahwa Allah ada baik dalam akal budi maupun dalam kenyataan.

Namun bukan berarti dengan memahami Allah sebagai sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan, dengan demikian kita sudah mendapatkan pengetahuan akan Allah. Allah harus lebih besar daripada apa yang bisa kita pikirkan mengenai Dia. Sebab ada sebuah pengertian nyata yang sempurna dimana kita dapat berpikir tentang sesuatu lebih besar dari pada apa yang bisa kita pikirkan itu, atau mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak dapat kita ketahui[3]. Dengan demikian pembuktian ontologis ini mau memperlihatkan bahwa iman akan adanya Allah dan akal budi tidak saling bertentangan.

Daftar Pustaka

Anselm’s., Proslogion. Translate by M.J. Charlesworth. London: University of Notre Dame Press,1979.

Baird, Forrest E., Medieval Philosophy. New Jersey: Simon & Schuster Ltd, 1997.

Suseno, Franz Magnis., Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Tjahjadi, Simon Petrus L., Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.


[1] Anselm’s., Proslogion. Translate by M.J. Charlesworth. London: University of Notre Dame Press, 1979, hlm. 54.

[2] Tjahjadi, Simon Petrus L., Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 124.

[3] Op Cit. Anselm’s., Proslogion. hlm. 81.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: