Mari Menyelam Sampai Dasar

Dalam mata kuliah Filsafat Manusia dijelaskan bahwa salah satu hal yang membedakan manusia dari binatang adalah kemampuan manusia untuk mengambil jarak dari dirinya sendiri. Hal ini terlihat dari cara kita mengintrospeksikan diri. Kemampuan ini membuat manusia menjadi mahluk yang selalu berkembang kearah yang lebih “maju”. Manusia yang tidak berkembang dan stastis adalah orang mati.

Namun, dalam pengalaman sehari-hari sering kita merasa bahwa hidup kita tidak berkembang sebagaimana mestinya dan kita iri pada perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan orang lain. Hal penting yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa hidup manusia kurang berkembang, bukan karena kurang kehendak baik (good will), tapi kurang ingatan (memory).

Ada sebuah perupamaan yang indah untuk menjelaskan bagaimana supaya hidup kita bisa lebih berkembang. Jika kita melihat nelayan yang pergi mencari ikan, tentu saja mereka akan bertolak ke tempat yang lebih dalam. Menantang badai dan kematian demi mendapatkan ikan. Namun, justru ditempat itulah mereka dapat menemukan banyak ikan, harta bagi para nelayan. Biasanya kedalaman itu sinar matahari sudah tidak bisa menembusnya lagi. Begitu gelap dan dingin, karena memang kedalamannya menyembunyikan misteri yang tidak seorang pun tahu.

Tempat ini saya pahami sebagai hati manusia. Tempat dimana harta terbesar kita tersembunyi. Maka, satu-satunya cara mendapatkan harta terpendam tersebut adalah dengan menyelami hati kita. Menurut saya, “alat-alat” yang dibutuhkan untuk menyelami hati kita ada tiga hal :

  1. Berdoa. Dengan berdoa kita mohon bantuan Tuhan untuk menyingkapkan kedalaman hati kita. Sebab siapa yang bisa mengetahui kedalaman hati kita selain Tuhan dan diri kita sendiri.
  2. Keheningan. Menjaga keheningan adalah salah satu kunci penting untuk mencapai dasar hati kita. Keheningan dimengerti tidak hanya menutup mulut, tetapi lebih kepada membuka telinga dan hati kita.
  3. Transparansi. Dengan transparansi kita mngupayakan untuk mengenal diri dengan mempertanyakan siapakah aku ini? Melalui transparansi, manusia akan terbuka pada kejernihan dirinya.

Akhirnya, keinginan manusia untuk menemukan harta di kedalaman hatinya merupakan kerinduan manusia untuk mengembangkan dirinya. Kalau begitu apakah manusia berani menyelami hatinya  yang gelap dan penuh misteri?? Hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: