Belajar dari Iwan Fals

Ketika sedang melihat-lihat koleksi lagu-lagu, saya menemukan kumpulan lagu-lagu Iwan Fals yang saya simpan. Saya ingat awal ketertarikan saya dengan Iwan Fals adalah lirik lagunya yang berbeda dengan penyanyi-penyanyi lain. Di saat orang menggembar-gemborkan cinta, Iwan Fals meneriakkan kritik terhadap keadaan sosial-politik negara ini. Lagu-lagu musisi kreatif ini kembali mengingatkan saya pada keadaan bangsa ini yang semakin carut-marut. Seakan membangunkan saya dari alunan musik masa kini yang cenderung mengobral cinta.

Saya teringat akan sebuah lagu yang berjudul “Sarjana Muda” yang menurut saya masih sangat relevan untuk kita renungi di masa yang sudah maju ini. Saya tulisakan kembali lirik lagunya supaya kita bisa berkaca bersama.

Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Didepan halaman sebuah jawatan
Terjenuh lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan
Tak perduli berusaha lagi
Namun kata sama kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap… maaf ibu…

Mendengar lagu ini saya tersadar bahwa dalam satu tahun berbagai universitas di Indonesia mencetak ratusan sarjana baru. Namun seiring dengan kelulusan mereka, dalam satu tahun yang sama, tercipta juga ribuan pengangguran di negeri ini.

Apa arti sebuah pendidikan di bangsa yang besar ini?? Kerap kali pertanyaan ini mengalir begitu saja dalam pikiran saya. Apakah bangsa ini harus merombak ulang lagi sistem pendidikannya menjadi lebih baik?? Tetapi kembali saya bertanya-tanya apakah pendidikan yang baik itu bagi bangsa ini??

Pemikiran ini didasari oleh realitas yang saya temui dalam kehidupan kita. Setiap tahun kita selalu membicarakan mengenai ujian akhir nasional (UAN) yang tak pernah selesai menciptakan penyimpangan baru. Keadaan ini semakin rumit ketika contek-mencontek dianggap hal yang lumrah demi sebuah nilai kelulusan. Selain itu kita tentu juga menemui kasus jual-beli  skripsi yang semakin blak-blakan saja, sehingga tanpa usaha keras gelar sarjana semakin mudah didapat. Dari sini saya kembali bertanya-tanya mana yang lebih penting, gelar sarjana atau kuantitas pendidikan manusianya??

Kembali ke lagu “Sarjana Muda”, setiap sarjana baru memimpikan suatu pekerjaan yang bisa menopang hidupnya. Saya rasa bahwa tanggung jawab ini tidak bisa kita limpahkan begitu saja kepada pemerintah. Masalah ini sekiranya menjadi masalah kita bersama sebagai satu bangsa yang besar. Saya merindukan kehadiran orang-orang yang mau membuka lapangan kerja demi masyarakatnya. Jika kita semua tidak mau turut ambil bagian dalam masalah ini, maka sama seperti yang dikatakan Iwan Fals: “Sia-sia semuanya”.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: