Intoleransi Prancis

Pasca Edikt Nantes

Terpilihnya Henry IV dari wangsa Bourbon yang seorang Calvinis menjadi raja, rupanya menjadi titik tolak pemulihan perdamaian antara pengikut Calvin (Huguenots) dengan penganut Katolik di Prancis. Pada tanggal 13 April 1598, Raja Henry IV mengeluarkan sebuah maklumat yang mendukung diadakannya toleransi beragama di seluruh Kerajaan Prancis yang dikenal sebagai Edikt Nantes. Maklumat ini memberikan angin segar bagi para pengikut Calvin untuk menjalankan ibadat sesuai dengan keyakinan mereka, kecuali di beberapa tempat[1].

Tidak hanya itu, mereka juga memperoleh hak-hak sipil dan politik secara penuh. Negara juga memberikan subsidi bagi sekolah-sekolah Protestan dan memberikan 200 kota untuk dipegang oleh Huguenots, termasuk benteng-benteng seperti La Rochelle. Perkembangan ini benar-benar memberikan kesempatan terhadap para Huguenots untuk hidup lebih baik dan terjamin. Sepeninggal Henry IV, kaum Huguenots merupakan kelompok minoritas di Prancis. Tetapi untuk masa lima puluh tahun berikutnya, lebih banyak para bangsawan yang menjadi Huguenots dan dengan demikian memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan ekonomi masyarakat Prancis.

Menuju Intoleransi

Walaupun toleransi antara Huguenots dan penganut Katolik dijamin oleh negara, tetapi benih-benih permusuhan tetap ada. Komunitas Protestan selalu mendapatkan tekanan dari penganut Katolik yang mayoritas. Sebaliknya, giliran mereka menekan minoritas Katolik  ketika mereka sendiri sebagai mayoritas. Sehingga masing-masing pihak merasa takut dan tidak aman.

Raja Louis XIV turut merasakan kekuatan Protestan sebagai sesuatu yang membahayakan stabilitas negara dan kekuasannya. Apalagi kemajuan mereka dalam hal ekonomi dan kekuasaan dianggap berseberangan dengan pandangannya yaitu “L’stat, c’est moi” (Saya adalah negara). Sehingga kekuatan Huguenots seperti membentuk negara dalam negara dan melawan pemerintahan terpusat yang diinginkan Louis XIV. Akhirnya, Louis XIV berkeinginan melemahkan kekuatan mereka atau kalau perlu dihancurkan semuanya.

Sementara itu, penganut Katolik di Prancis sedang berang atas kasus hukuman mati yang dijatuhkan kepada lima orang Yesuit di London pada tanggal 30 Juni 1679. Kemudian Raja Louis XIV didesak oleh penganut Katolik Prancis untuk menekan para Huguenots yang dianggap bidaah. Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1660-1679) terciptalah dua belas undang-undang untuk melawan Huguenots dan bertambah lagi menjadi delapan puluh lima dari 1979 sampai 1685[2].

Di bawah Kardinal Mazarin, Raja Louis XIV mengirimkan pasukan kerajaan untuk menguasai perbatasan dan wilayah-wilayah Huguenots. Pengiriman pasukan inilah yang mendasari peristiwa dragonnades dan ribuan Huguenots mengungsi ke luar negri untuk menghindari peristiwa berdarah ini. Langkah politik yang diambil oleh Louis XIV menimbulkan kemarahan dari negara-negara tetangga yang mendukung Huguenots.

Edikt Fontainebleu

Penganiayaan oleh Louis XIV terhadap Huguenots berpuncak pada tanggal 18 Oktober 1685, dengan mencabut seluruh hasil Edikt Nantes melalui Edikt Fontainebleu. Seluruh cara ini dilakukan oleh Raja Louis XIV untuk mendongkrak popularitasnya dengan membentuk kerajaan yang terdiri dari satu agama saja, yaitu Katolik Roma, dengan demikian kesatuan politis dapat terlaksana. Louis XIV ingin menunjukkan kepada Paus Innocentius XI bahwa dirinya adalah seorang pembela yang luar biasa bagi Gereja Katolik, termasuk berkenaan dengan masalah Galikanisme.

Melalui maklumat ini terjadilah penghancuran-penghancuran terhadap rumah ibadat Calvinis dan penutupan bagi seluruh sekolah Protestan. Sebanyak 200.000 Calvinis pergi melarikan diri ke Inggris, Jerman, Swiss dan Belanda. Pengungsian ini mengakibatkan hancurnya keadaan ekonomi Prancis karena Huguenots yang ahli dalam berbagai bidang ikut melarikan diri.

Daftar Pustaka

Jedin, Hubert. History of The Church. Vol. VI. London: Burns and Oates,1981.

Kristiyanto, Eddy. Reformasi dari Dalam: Sejarah gereja Jaman Modern. Jogjakarta: Kanisius, 2004.

—.”The Revocation of Edict of Nantes”. Diunduh dari www.historyguide.org/earlymod/revo_Nantes.html pada tanggal 27 Maret 2010 pukul 13.00.


[1] Kristiyanto, Eddy., Reformasi dari Dalam: Sejarah Gereja Jaman Modern. Jogjakarta: Kanisius, 2004, hlm. 125.

[2] Jedin, Hubert., History of The Church, vol VI. London: Burn and Oates, 1981, hlm. 73.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

2 responses to “Intoleransi Prancis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: