Siddhartha dan Semut

Siddhartha dan Semut


Alkisah, suatu kali ketika Siddhartha duduk di atas sebongkah batu bulat di taman istana. Ia terpesona dengan sekoloni semut hitam yang sedang menguasai sarang rayap. Duduk berlama-lama di atas batu taman sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dalam hidup pangeran muda ini. Setiap hari selalu saja ada yang mempesonanya. Seperti arak-arakan awan-gemawan yang berbaris rapi menunggu kedatangan sang angin yang menjatuhkan butiran-butiran air ke permukaan bumi untuk membantu suatu kehidupan baru. Atau seekor lebah yang asik menghisap madu bunga mawar merah, namun tidak menyadari bahwa ada mahluk lain yang mengintip di balik daun untuk memangsanya. Atau bahkan memperhatikan kepompong yang bergayut pada sebuah ranting pohon. Ia memperhatikan kepompong tersebut berhari-hari sampai pada akhirnya seekor kupu-kupu terbang bebas dari dalamnya. Dengan susah payah kupu-kupu itu mencoba mendobrak cangkang kepompongnya untuk keluar sebagai mahluk baru. Menghirup udara segar bukan lagi sebagai ulat hijau yang menjijikkan, tapi sebagai kupu-kupu indah dengan dengan berbagai warna. Ia terbang melenggak-lenggok menunjukkan keindahan dirinya. Pangeran muda itu tersenyum setiap membayangkan kalau saja dirinya bisa keluar dari dirinya sendiri seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Terbang dengan genit mencari bunga-bunga bermandikan embun pagi penuh madu.  Namun, kali ini pandangannya tertuju pada koloni semut tersebut.

Tiba-tiba Prajapati, bibi sang pangeran, datang menghampiri Siddhartha yang masih terpesona dengan penemuan barunya. Prajapati menghentikan langkahnya di samping Siddhartha, memperhatikan hal yang sama dengan keponakannya.

“Siapa yang menang?” tanyanya.

“Itu tidak penting.” Jawab Siddhartha halus.

Siddhartha menyaksikan seekor semut tentara yang menggotong rayap muda dengan capitnya yang besar. Jalan semut itu terhalang kerikil besar. tidak peduli dengan beban yang ia bawa dua kali lipat dari besar tubuhnya, ia tetap mencoba memanjat kerikil tersebut yang ukurannya lima kali lebih besar dari tubuh si semut. Namun rupanya jalan yang ia tempuh terlalu curam, sehingga sedetik kemudian justru semut itu terpelanting jatuh. Si semut memanjat lagi, terpelanting lagi, memanjat lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Bodoh! Harusnya ia memilih untuk tidak melalui batu itu,” Prajapati berkomentar.

“Yang perkasa tidak memilih jalan memutar.” Siddhartha menggeleng.

“Memang semut seperkasa apa?” Lanjut Prajapati penuh keheranan.

“Semut itu menganggap dirinya perkasa. Itu yang penting.”

“Aku bisa menginjaknya. Kalau begitu dia seperkasa apa?” Prajapati tidak mau kalah.

Sambil tersenyum, ia menatap bibinya, lalu mengucapkan sesuatu, “Tuhan bisa menginjak ayahku, tapi beliau tetap menganggap dirinya perkasa.”

“Itu tidak sama!.” Prajapati membalasnya dengan cepat.

Siddhartha kembali tersenyum, kemudian ia mengangkat semut itu. Sambil menatap mainan barunya, ia berkata dengan tenang dan halus.

“Kalau kau menganggap dirimu perkasa, hanya itu yang penting. Tidak ada seorangpun sungguh-sungguh perkasa.”

Mendengar penjelasan Siddhartha, Prajapati tersentak tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Nb:

Kisah ini benar-benar menginspirasikan saya. Sebenarnya ide cerita ini berasal dari sebuah buku yang berjudul “Buddha” karya Deepak Chopra. Namun, karena saya sedang belajar menulis, saya mencoba menuliskan kisah ini dengan kata-kata saya sendiri dengan tidak mengurangi esensi dari kisah yang menakjubkan ini. Selamat menikmati.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

One response to “Siddhartha dan Semut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: