Teaching Other To Pray

Teaching Other To Pray”

Oleh: William A. Barry, S.J.

Berdoa merupakan kegiatan yang selalu ada dalam setiap agama. Namun seringkali berdoa juga menjadi hal tersulit bagi beberapa orang untuk dilakukan. Yesus juga mengajarkan kepada murid-muridnya suatu bentuk doa yang sekarang lebih dikenal dengan doa Bapa Kami. Jadi, jika ingin mengajarkan orang lain untuk berdoa, ajarkan saja doa Bapa Kami yang memang adalah doa yang Yesus ajarkan sendiri kepada para muridnya (Luk 11:1). Tetapi tetap saja ada orang-orang tertentu yang merasa bahwa berdoa adalah suatu kegiatan yang sulit. Artikel ini ingin memaparkan beberapa cara yang berbeda untuk membantu mereka yang kesulitan berdoa dan saran-saran bagi siapa saja yang ingin menjadi pembimbing spiritual.

Sebelum masuk ke dalam bahasan ini, penulis menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa itu doa. Berdoa adalah suatu kegiatan dimana kita menyatukan imajinasi, pikiran dan emosi untuk menjadi sadar akan kehadiran Tuhan. Dalam rumusan diatas, imajinasi merupakan hal yang penting karena orang yang berdoa harus bisa menghadirkan Tuhan dalam pikirannya. Dengan begitu ia akan terbantu untuk semakin mengenal Tuhan yang telah menciptakan kita dengan cinta.

Gambaran Akan Allah

Dalam artikel ini, penulis memulai dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana seseorang bisa berdoa dengan baik kepada Bapa bila dalam hidup, mereka pernah mengalami  perlakuan kasar dari orang tua mereka, khususnya ayah. Pastinya sulit mengenalkan doa Bapa Kami kepada orang yang memiliki pengalaman traumatis semacam ini. Mereka akan sangat kesulitan menemukan konsep Bapa yang baik seperti dalam doa Bapa Kami. Maka, sebelum membantu seseorang untuk belajar berdoa ada baiknya jika mengetahui bagaimana mereka berdoa. Banyak orang memiliki gambaran akan Allah yang sangat beragam dikarenakan pengalaman mereka dengan orang tua mereka. Pengalaman traumatis merupakan pengalaman yang paling sering mengaburkan gambaran mereka tentang Allah. Sedangkan memiliki gambaran akan Allah yang baik sejak dini merupakan kunci penting untuk percaya kepada-Nya.

Berhadapan dengan orang yang berpandangan semacam ini haruslah dihadapi dengan sangat serius. Mengubah pandangan mereka tentang Tuhan bukanlah perkara mudah. Hal ini dikarenakan bahwa gambaran tentang Tuhan dibentuk semenjak kita kecil. Pengalaman traumatis yang mewarnai masa kecil akan berakibat pada cara pandang kita terhadap Tuhan. Pengalaman ini akan membekas secara psikologis dan sulit disembuhkan. Pada bagian ini penulis mencoba membagikan pengalamannya ketika membantu orang-orang yang memiliki pengalaman seperti ini untuk berdoa.

Latihan pertama yang diberikan adalah dengan memunculkan pengalaman akan kehadiran Allah dalam hidup kita. Jika sudah menemukan pengalaman tersebut, kita diajak untuk mengulangi terus pengalaman itu dalam doa, sampai pada akhirnya pengalaman itu dapat menggantikan pandangan buruk kita. Selama masa pengolahan, mereka kita berikan perikop dari Kitab Suci yang mengisahkan sosok Allah yang penuh kasih.   Poin penting dalam bagian ini adalah bagaimana memberikan dorongan bagi orang yang memiliki gambaran negatif tentang Allah, dengan begitu mereka bisa menemukan dalam pengalaman mereka tentang pandangan yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Hal ini dimaksudkan supaya dengan berdoa mereka bisa semakin percaya kepada Allah.

Penulis juga menganalogikan bahwa berdoa seperti membangun relasi dengan Allah. Maka, untuk mengembangan relasi tersebut dibutuhkan keterbukaan dan hasrat yang besar untuk mengenal Allah secara lebih mendalam. Demikian latihan-latihan yang perlu dilakukan jika kita menemui orang yang memiliki gambaran negatif tentang Allah, namun mau berkembang dalam doa.

Mengembangkan Hidup Doa

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memiliki gambaran positif tentang Allah, yang melalui hidup doa ingin semakin memperdalam relasinya dengan Tuhan. Hal pertama yang diperlukan untuk membantu orang-orang semacam ini adalah menemukan apa yang direncanakan Tuhan bagi kita. Caranya adalah dengan menyiapkan waktu kosong untuk berdoa sambil menyadari kehadiran Tuhan. Waktu yang diperlukan tidaklah harus setiap hari dan lama, tetapi cukup bila kita bisa masuk kedalam keheningan untuk bertemu dengan Tuhan. Dengan keinginan kuat, kita bisa bertanya kepada Tuhan mengenai rencana Tuhan terhadap kita. Kemudian berikan kesempatan bagi-Nya untuk menjawab doa kita ini.

Biasanya, pada awalnya kita akan merasa kalau berdoa itu sangat mudah dan menyenangkan, namun tiba-tiba kita akan merasakan kekeringan yang luar biasa dasyatnya. Seakan-akan Allah sudah tidak menyayangi kita lagi dan rasanya hidup terasa hampa. Ketika seseorang sedang berada dalam keadaan ini, biasanya mereka mempertanyakan kembali apakah Allah masih mencintai mereka. Karena penulis adalah seorang Jesuit, maka untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan semacam ini, ia mengenalkan dinamika ”Minggu Pertama” dari buku Latihan Rohani. Latihan-latihan yang diberikan memuat meditasi tentang tiga dosa, sekaligus memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menjawab doa kita. Hal yang perlu disadari adalah bahwa kita mesti percaya kalau Roh Kudus akan membawa kita kembali ke jalan Tuhan.

Selain itu ada latihan lain yang bisa membantu siapapun yang mau mengetahui kalau dirinya masih dikasihi Tuhan walaupun telah berdosa kepada-Nya. Caranya adalah dengan duduk di depan salib Kristus dan menatap kedalam matanya yang sendu. Dengan begitu kita akan mengetahui melalui sorotan mata-Nya bahwa Allah dengan sungguh-sungguh mengasihi kita dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal.

Banyak orang yang telah sejauh ini mengembangkan relasinya dengan Tuhan menginginkan untuk mengenal Yesus secara lebih baik dalam rangka untuk lebih mencintai-Nya dan mengikuti Dia secara lebih dekat. Dorongan untuk semakin mengenal Kristus ini bisa dikembangkan dengan mengikuti dinamika ”Minggu Kedua” dari buku Latihan Rohani. Latihan ini mengajak kita untuk mengkontemplasikan hidup Yesus melalui Kitab Suci, khususnya Injil Markus. Latihan ini diharapkan bisa menyingkap pribadi Yesus dan dengan begitu keinginan kita untuk semakin mengenal Dia bisa terpenuhi. Berkontemplasi dalam membaca Kitab Suci akan mencerahkan pikiran kita akan kehidupan Yesus. Setelah mencoba latihan ini, penulis menyarankan supaya kita merenungkan kembali perikop tersebut dengan lebih perlahan. Dengan begitu relasi yang kita bangun dengan Yesus bisa semakin mendalam.

Terkadang memiliki hubungan yang intim dengan Yesus membawa kita untuk ikut merasakan penderitaan dan kematian-Nya yang luar biasa. Untuk bisa masuk ke dalam pengalaman rohani semacam ini, memang dibutuhkan kesabaran. Mengkontemplasikan hal ini memang tidak mudah, namun bila kita terus mencoba kita juga akan dibawa pada pengalaman kebangkitan-Nya yang mulia. Karena, untuk mengalami sukacita kebangkitan, kita juga harus mengalami kejamnya penyaliban Kristus.

Untuk memenuhi eksposisi dari Latihan Rohani yang bertujuan untuk mengembangkan relasi dengan Tuhan, kita dapat mengacu pada bagian akhir dari kontemplasi minggu keempat pada buku Latihan Rohani. Kecintaan kita pada Tuhan akan membuka kesadaran akan hidup. Kita diajak untuk mensyukuri kehidupan yang telah diberikan Allah. Akhirnya akan timbul hasrat dalam hati kita untuk bersatu dengan Allah. Pengalaman ini kita akan tertanam dalam hati dan pikiran kita untuk selalu berusaha menemukan Allah dalam segala hal. Jadi, inti dari bagian ini adalah bagaimana cara kita untuk dapat mencintai dan melayani Tuhan di dalam setiap hal di dunia ini. Dan hal tersebut dilakukan dengan suatu metode yang dinamakan sebagai kontemplasi dalam aksi.

Doa Gereja

Pada akhirnya, penulis tidak saja menunjuk Latihan Rohani sebagai satu-satunya metode untuk mengembangkan hidup doa kita, tetapi kita juga bisa menggunakan doa Gereja. Misalnya doa Rosario. Doa ini berisikan lima belas ”misteri” yang mencakup seluruh kehidupan Yesus dan Maria. Ignasius juga menyarankan dua sikap dalam mendoakan doa-doa Gereja. Pertama, ialah dengan mengucapkan doa secara perlahan-lahan dengan berhenti pada setiap kata-kata sambil tetap merenungkan makna kata-kata tersebut bagi hidup kita. Kedua, ialah dengan menyesuaikan kata-kata dengan tarikan nafas. Satu frasa satu nafas sampai seluruh doa diselesaikan.

Akhir kata, bagi siapa saja yang belajar mengembangkan hidup doa secara serius pasti akan mengalami banyak kegoncangan. Di satu sisi mereka akan merasa sangat bergembira dan berkobar-kobar, di satu sisi mereka akan mengalami kebosanan dan putus asa. Bagi Ignasius, pengalaman semacam itu memiliki arti yang besar untuk mengembangkan relasi yang intim dengan Tuhan. Pengalaman konsolasi dalam mengembangkan iman, harapan, dan kasih merupakan tanda bahwa Allah ikut bekerja dalam hidup kita. Maka, bagi siapa saja yang ingin secara serius membantu orang lain melalui hidup doa, penulis sangat menekankan akan kepiawaiannya dalam hal pembedaan roh serta berpengalaman dalam bimbingan rohani.

Tanggapan Pribadi

Mengenal Doa

Setelah membaca dan merangkum artikel ini saya mengakui bahwa berdoa bagi kebanyakan orang memang merupakan kegiatan yang sulit dilakukan. Berdoa tidak serta-merta menutup mata lalu kita bisa menemukan Tuhan. Kita bisa menemukan banyak buku yang secara khusus membahas mengenai bagaimana cara berdoa, tapi rupanya berdoa tetap saja tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan bagi orang-orang yang ingin mengembangkan kehidupan doanya, masalah ini juga menghinggapi mereka.

Masyarakat kita sering menganggap bahwa doa sama dengan doa permohonan. Mereka selalu disibukkan dengan permintaan-permintaan yang tiada habisnya. Akibatnya, Tuhan hanya menjadi tempat pelarian bagi masalah-masalah manusia saja. Padahal makna doa lebih luas dari apa yang selama ini kita kira.

Doa adalah penggerak agama.[1] Dengan berdoa kita mengungkapkan iman kita kepada Tuhan. Tanpa doa, agama hanyalah ritual belaka. Doa tidak saja dinilai berdasarkan aturan-aturan atau rumusan doa yang malah membatasi iman seseorang, melainkan suatu ungkapan yang timbul dari hati. Dalam berdoa peranan hati sangatlah penting. Hati membantu kita untuk menyadari kehadiran Allah. Dari dalam hati pula timbul hasrat untuk mengenal Sang Putra. Maka, tepatlah apa yang ditulis dalam artikel ini bahwa hubungan yang mendalam bisa diolah hanya dengan membuka hati kita terhadap Tuhan serta penyadaran terus-menerus akan kehadiran Allah.

Lalu apa yang membuat doa itu begitu sulit dilakukan? Bagi saya berdoa menjadi sulit karena doa didasari oleh pengalaman akan Allah. Allah dimengerti sebagaimana Ia menyatakan diri dan sejauh mana manusia mampu menerima wahyu Allah itu. Banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka sudah terbawa arus kehidupan. Segala sesuatu serasa berjalan begitu cepat sehingga mereka lupa memberikan waktu bagi hati untuk bekerja. Allah yang begitu dekat menjadi terasa sangat jauh karena hati kita tertidur. Kita menjadi tidak sadar bahwa Allah hadir dalam kehidupan kita dan bahkan bekerja dalam hidup kita. Maka, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat hati kita terjaga. Hati yang terjaga bukan saja soal penyadaran akan Allah, tetapi juga ketika menggerakkan hati kita untuk berdoa.”Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat 12:34), maka berdoa sama seperti hati yang meluapkan kegembiraan.

Namun, melatih hidup doa juga membutuhkan keberanian yang sekiranya bisa mendorong kita untuk terus berusaha. Karena, seperti juga disinggung dalam artikel diatas bahwa ada saatnya seseorang yang mengembangkan hidup doa akan menemukan banyak kegoncangan.  Sesaat hati kita penuh dengan kegembiraan dan berkobar-kobar, namun tiba-tiba kita merasa kosong dan putus asa. Tuhan seperti meninggalkan kita sendirian dalam pergulatan doa. Ternyata, pengalaman semacam ini adalah hal yang wajar dihadapi oleh siapa saja yang ingin mengembangkan kehidupan doa. Bahkan Yohanes Salib mengatakan kalau keadaan semacam ini merupakan tahap yang mesti dilalui. Maka, kita dituntut memiliki hasrat yang bisa mendorong kita untuk tetap berusaha menemukan Tuhan dan menjalin relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Masuk Dalam Keheningan

Hal pertama yang harus kita akui ketika hendak mengembangkan hidup doa adalah bahwa berdoa merupakan sebuah proses. Ketika berdoa, kita akan dihadapkan pada kelemahan-kelemahan diri. Rasa kantuk, bosan, malas, dan kekosongan teraduk menjadi satu sehingga menimbulkan berbagai macam perasaan kesia-siaan. Maka, untuk menghadapi serangan semacam ini diperlukan suatu militansi doa. Perasaan yang  memacu kita untuk terus berlatih walaupun harus jatuh-bangun. Dengan mengakui kekurangan ini kita pun akan ikut berproses dalam iman, harapan, dan kasih.

Menjadi hening merupakan unsur pokok dalam berdoa. Tuhan berbicara dalam keheningan dan hanya orang yang mampu menjaga keheningan dapat mendengarkan-Nya. Namun, pada kenyataannya berusaha untuk selalu dalam keadaan hening bukanlah perkara yang mudah. Banyak orang yang sampai sejauh ini masih kesulitan untuk mencapai tahap keheningan batin. Hening membawa seseorang kepada kedalaman dirinya sendiri dan disanalah mereka bertemu Tuhan.

Sama seperti Elia yang bertemu Tuhan dalam bunyi angin sepoi-sepoi basa (1Raj 19:11-13), di sanalah Elia mendengar suara Tuhan dalam keheningan. Keheningan membimbing kita untuk menjangkau Allah yang tak terbatas. Dengan menyadari bahwa Tuhan diatas segalanya, kita serahkan segala daya yang kita miliki dalam mencari Tuhan. Maka, keheningan harus dicari sendiri dan dialami.

Yohanes Salib, seorang pujangga gereja yang terkemuka dalam hal doa, menguraikan bahwa perjumpaan dengan Allah tidak bisa dilakukan tanpa bantuan rahmat Allah sendiri. Sebab, untuk sampai pada keheningan tersebut, manusia harus terlebih dulu ditarik oleh api cinta Kristus yang membakar jiwa. Api cinta itu dapat kita terima melalui tahap pemurnian jiwa pasif dan aktif. Pemurnian jiwa aktif merupakan usaha manusia untuk selalu menyiapkan diri bagi pertemuan dengan Tuhan, sedangkan Pemurnian jiwa pasif merupakan  perbuatan Tuhan dalam memurnikan kita.

Secara lebih radikal Yohanes Salib menekankan proses kemurnian untuk bersatu dengan Allah. Pemurnian itu hanya bisa dicapai dengan mematikan keinginan-keinginan dan penyangkalan segala kesenangan dalam segala hal. Tentu saja proses yang dituntut oleh Yohanes Salib sangatlah berat bagi kebanyakan orang. Sebab memang tujuan yang ingin dicapainya adalah persatuan cinta kasih dengan Allah yang mengubah segalanya.

Bagi Yohanes Salib, ketika kita memasuki keheningan yang benar-benar hening maka kita akan dibawa pada tahap yang lebih tinggi dalam perkembangan rohani. Tahap ini lebih dikenal sebagai pengosongan diri. Keadaan kosong akan memudahkan Allah untuk mengisi diri kita dengan rahmat-Nya yang luar biasa. Disinilah Allah menjadi harta yang sejati. Sama seperti gelas yang menjadi berguna karena memiliki ruang kosong yang bisa diisi, begitu pula jiwa kita.

Bentuk-Bentuk Doa

Seiring dengan perkembangan Gereja, maka berkembang pula bentuk-bentuk doa yang dimiliki. Gereja memiliki kekayaan dalam hal doa. Disini orang bisa memilih bentuk doa macam apa yang sesuai dengan diri mereka. Selama doa masih bisa mengungkapkan iman kristiani, bentuk doa itu sah-sah saja dilakukan. Inilah beberapa bentuk doa yang diakui Gereja.

Meditasi. Dalam meditasi, sebuah doa berkonsentrasi pada budi. Sebab daya pikir dan refleksi seseorang menjadi aktif. Kita berusaha untuk mendalami Kristus untuk mendapatkan pemahaman dan pengertian. Secara aktif kiat mencari Allah dengan kedalaman intelektual dan afektif.

Kontemplasi. Meditasi mengantar seseorang kedalam kontemplasi. Dengan berkontemplasi kita membuka diri terhadap dorongan Roh. Kontemplasi lebih pasif sebab menunggu kedatangan Allah. Terkadang kontemplasi menjadi menyulitkan karena kita harus menunggu dengan sabar. Dengan kontemplasi bibir dan budi sama-sama tenang, sementara hati mencari hubungan dalam doa tanpa kata dan kerinduan untuk bersatu dengan kehendak Allah.

Kehidupan doa juga tidak bisa dipisahkan dari Kitab Suci. Sebab, Kitab Suci merupakan sumber iman yang nyata. Ketika kita berdoa, kita berusaha untuk membangun relasi yang semakin mendalam dengan Kristus. Seperti juga sudah tertulis dalam artikel diatas bahwa untuk bisa membangun relasi dengan seseorang, kita pun harus mengenal dia secara lebih mendalam. Disinilah peran Kitab Suci menjadi penting. Hanya melalui Kitab Suci kita bisa mengenal pribadi Yesus secara lebih mendalam. Maka secara khusus Konsili Vatikan II pun berani berkata, ”Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (DV 25).[2]

Selain itu kita juga mengenal beberapa doa Gereja. Seperti ibadat harian dan Rosario yang sudah dibahas dalam artikel diatas. Doa Gereja merupakan doa resmi yang diakui oleh Gereja. Ketika kita mendoakan doa-doa ini, secara aktif kita pun berdoa bersama Gereja sebagai satu kesatuan. ”Allah menguduskan dan menyelamatkan orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan yang lain. Ia membentuk mereka menjadi umat, yang mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci” (LG 9).

Akhir kata, bagi siapapun yang ingin mengembangkan hidup doa hendaknya memiliki seorang pembimbing rohani yang kira-kira sesuai dengan dirinya dan memiliki keahlian dalam bidang tersebut serta bisa dipertanggung jawabkan secara hukum Gereja. Mereka yang dipilih sebagai pembimbing tidak saja memiliki keahlian dalam pembedaan roh, tetapi juga harus memiliki pengalaman yang mendalam tentang hidup doa.

Refleksi

Saya percaya bahwa doa itu menunjukkan siapa kita. Ketika kita berdoa menghadap Allah, seluruh kekuatan dan beban hidup harus dilepaskan. Dari sinilah ketulusan kita dapat dilihat. Namun, sebagai calon imam sejauh mana saya turut mengembangkan hidup doa. Karena doa itu ibarat membangun relasi dengan Allah, maka saya pun dituntut untuk dengan setia mencari Allah dalam doa-doa saya. Walaupun saya masih merasa kalau relasi yang saya bangun sering kali menjadi renggang karena dosa. Hidup doa haruslah menjadi bagian dalam hidup saya. Sebab seorang calon imam tanpa membangun relasi yang intim dengan Allah yang memanggil adalah kesia-siaan. Hubungan inii yang membedakan seorang calon imam dengan remaja lainnya.

Setelah mendalami artikel ini, saya jadi mengetahui bahwa dalam berdoa bukan saja manusia yang aktif mencari Allah, tetapi Allah juga berperan memurnikan manusia. Allah sebagai Gembala yang Baik tidak pernah meninggalkan domba gembalaannya. Betapa bersyukurnya kita memiliki Allah yang sangat perhatian.

Daftar Pustaka

Green, Thomas H., Bimbingan Doa. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Jacobs, Tom., Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Louf, Andre., Menyelami Tradisi Doa. Yogyakarta: Kanisius, 1984.


[1] Jacobs, Tom., Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm.23.

[2] Ibid., hlm.113.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: