Diambil, Diberkati, Dipecah, dan Dibagikan

Diambil, Diberkati, Dipecah, Dibagikan

Oleh: Henri J. Nouwen

Hidup sebagai Pribadi yang Dikasihi”

Menurut Henri Nouwen, sebagai pribadi-pribadi yang dipilih, diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan, kita dipanggil untuk menghayati hidup kita dengan kegembiraan dan damai batin yang mendalam. Sebagai pribadi yang dikasihi Allah, kita telah diambil dan Allah telah memilih kita sebagai mahluk yang khusus, istimewa dan berharga. Kesadaran kita sebagai pribadi yang dipilih Allah secara istimewa harus bisa membuka mata kita untuk melihat bahwa orang lain juga pibadi-pribadi yang dipilih. Dalam rumah Allah ada banyak tempat. Ada tempat untuk setiap orang lain yang juga berharga dan mempunyai tempat yang istimewa di hati Allah.

Sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, kita juga diberkati. Berkat lebih dari pada sekedar kata-kata pujian atau pengharapan. Memberi berkat berarti meneguhkan, mengatakan ”ya” atau mengakui bahwa orang itu adalah pribadi yang dikasihi. Tapi peneguhan hidup dengan baik adalah hal yang berat. ”Diberkati” sungguh merupakan tanda bahwa kita adalah pribadi yang dikasihi. Dengan begitu kita akan terus-menerus disadarkan kalau Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, bahkan kita dituntun oleh kasih dalam setiap langkah kehidupan kita.

Bagi Henri Nouwen keadaan kita sebagai pribadi yang terpecah-pecah menyatakan mengenai siapa diri kita sebenarnya. Setiap orang menderita dengan cara khusus yang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Itulah sebabnya kita merasakan perlakuan yang istimewa ketika seseorang membagi-rasakan sebagian beban-beban hidupnya dengan kita. Sebab, pengungkapan sisi lemah diri adalah tanda kepercayaan mereka kepada kita.

Segi keempat dari hidup sebagai pribadi yang dikasihi adalah dibagi-bagikan. Kebahagiaan kita justru menjadi penuh kalau kita memberikan diri kita bagi orang lain. Sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, kita juga dipanggil untuk menjadi roti bagi yang lain. Hanya melalui hal ini kematian kita tidak menjadi sia-sia, tapi menjadi rahmat bagi yang lain.

Namun, untuk bisa sampai pada tahap ini Henri Nouwen menyatakan bahwa kita tidak perlu menolak hal-hal yang ditawarkan dunia seperti: uang, prestasi dan keberhasilan. Apalagi sampai mengesampingkan ambisi dan cita-cita. Sebab, hidup sebagai pribadi yang dikasihi adalah bagaimana kita memperjuangkan dan meyakini kebenaran rohani kita dan hidup dalam dunia tetapi sebagai yang bukan milik dunia.

Henri Nouwen meyakini bahwa ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa dinikmati dan memang untuk kita nikmati. Namun kita hanya bisa menikmati sungguh-sungguh semua hal baik yang ditawarkan dunia kalau kita dapat mengakui bahwa itu semua adalah peneguhan atas kebenaran bahwa kita adalah pribadi yang dikasihi Allah. Kebenaran itu tidak hanya membuat kita mampu menerima dunia dengan penuh rasa syukur, tetapi juga membuat kita mampu melepaskan semua yang mengganggu dan mengacaukan kehidupan Roh yang ada dalam diri kita.

Ia mengajak untuk memandang diri kita sebagai orang yang diutus ke dunia. Secara rohani kita bukanlah milik dunia. Maka sebagai orang yang diutus ke dunia, hendaknya kehadiran kita di antara semua orang membuat mereka melihat secercah hidup yang sejati. Ketika kita sadar bahwa kita diutus ke dunia, maka segala sesuatu berubah secara perlahan dan menjadi bening.

Gampangnya, hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk menjadi diri sendiri, untuk menegaskan hakikat rohani kita sendiri, meyakini kebenaran kita, mengintegrasikan realitas keberadaan kita dan menjadikannya milik kita, terutama kepada Dia yang mengakui kita sebagai pribadi yang dikasihi.

Henri Nouwen mengatakan bahwa rahasia Allah yang tidak akan pernah terselami ialah bahwa Allah adalah Pencinta yang ingin kita cintai. Dia yang mencintai kita, juga menantikan tanggapan kita. Allah tidak hanya mengasihi kita, tetapi juga mempertanyakan apakah kita mengasihi-Nya. Tentu saja Allah memberikan kesempatan yang tidak terhingga bagi kita untuk menjawab ”ya”. Inilah hidup rohani: kesempatan untuk mengatakan ”ya” atas kebenaran batin kita. Bagi Henri Nouwen, hidup rohani yang dipahami dengan cara seperti ini dapat mengubah secara mendasar segala sesuatu. Dan pada setiap titik perjalanan hidup kita selalu terdapat pilihan untuk menjawab ”ya” atau ”tidak”. Menghayati hidup rohani berarti menghayati hidup sebagai realitas yang bulat. Kekuatan kegelapan adalah kekuatan yang memecah, memisah-misah dan memperlawankan. Sedangkan Roh mempersatukan.

Menurut Henri Nouwen, Roh Allah, yang mengganggap kita sebagai pribadi yang dikasihi adalah Roh yang mempersatukan dan membuat utuh. Kalau Roh bekerja, perpecahan yang dikarenakan kekuatan kegelapan akan hilang dan kesatuan batin maupun lahir menampakkan diri. Ia mengatakan bahwa hal terpenting adalah kalau keseluruhan hidup sehari-hari kita hayati ”dari atas”. Artinya, sebagai pribadi yang dikasihi Allah dan diutus ke dunia, merupakan kesempatan kita untuk memilih hidup yang tidak dapat dikalahkan oleh maut.       Kita diutus ke dunia dalam jangka waktu yang pendek untuk menyatakan ”ya” kepada kasih Allah yang telah diberikan kepada kita. Dengan demikian kematian menjadi saat kita dibawa kembali kepada Allah. Namun, hal ini hanya bisa terlaksana bila seluruh hidup kita adalah perjalanan kembali kepada Dia yang menyebut kita sebagai pribadi yang dikasihi. Hidup sesudah kematian merupakan penyingkapan secara utuh dan penuh dari yang sudah kita hayati dan alami dalam hidup kita. Henri Nouwen menunjuk Injil Yohanes yang mengatakan, ”Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak, akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yoh 3:2).

Dengan keyakinan ini kematian bukan lagi peristiwa yang harus ditakuti dan dihindari sebisa mungkin, namun sebaliknya merupakan jawaban ”ya” yang terakhir. Jawaban yang menghantar kita sebagai anak-anak Allah. Sehingga kematian dihayati sebagai kepenuhan. Henri Nouwen meyakini bahwa kita diutus ke dunia merupakan hal yang sangat menggembirakan bahkan mencengangkan, lebih-lebih karena Dia yang mengutus kita menantikan kita untuk kembali ke rumah dan menceritakan semua yang sudah kita pelajari. Henri Nouwen tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dengan kematian, bahkan kematian adalah tindakan kasih yang paling besar. Tindakan yang membawa saya masuk ke dalam pelukan Allah, yang kasih-Nya tanpa batas.

Tanggapan Pribadi

Ekaristi

Dalam Gereja Katolik, Ekaristi merupakan puncak iman, pusat iman dan juga sumber iman Katolik (LG 11). Semua peristiwa penting dalam kehidupan orang Katolik selalu diarahkan dan dipusatkan pada Ekaristi. Mulai dari kelahiran sampai dengan peristiwa kematian pun peran Ekaristi tidak pernah hilang. Hal ini menandakan kedekatan umat Katolik dengan Ekaristi, sekaligus sebagai pemenuhan kebersatuan Kristus Sang Gembala Baik dengan umat gembalaan-Nya.

Kata Ekaristi sendiri berasal dari kata Yunani, eucharistia, yang berarti doa syukur. Di sini kita diajak untuk mensyukuri karya penyelamatan Yesus Kristus yang mau menebus kita dari dosa. Dalam perayaan ini kita juga diajak untuk bersama-sama menyambut Kristus yang hadir secara nyata di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur yang kita terima saat komuni.

Semestinya, dengan menempatkan Ekaristi sebagai pusat kehidupan, kita harus mau mempersembahkan diri seutuhnya dengan segala permasalahan, kegembiraan, dan kesusahan kita terhadap Kristus. Selain itu kita juga harus sadar bahwa Ekaristi merupakan undangan pesta, dimana kita ikut ambil bagian dalam perjamuan makan bersama dengan seluruh umat beriman. Sehingga penghayatan kita terhadap Ekaristi, pada akhirnya sampai pada pemahaman bahwa dengan menerimakan Ekaristi kita diajak untuk dipersatukan dengan Kristus sebagai satu tubuh.

Ekaristi Sebagai Undangan Pesta

Saya merasa, sebagai pribadi yang dikasihi Allah, peristiwa diambil, diberkati, dipecah-pecahkan, dan dibagi-bagikan sangat baik bila dihayati secara sungguh-sungguh.

Setelah kita menyadari bahwa Ekaristi adalah puncak seluruh kegiatan umat, kita pun harus ingat bahwa Ekaristi juga merupakan undangan pesta. Ekaristi sendiri merupakan serangkaian acara liturgi dimana umat terlibat di dalamnya, sedangkan keterlibatan tersebut berpuncak pada komuni. Tanpa komuni keterlibatan umat dalam Ekaristi belumlah lengkap. Allah sendiri adalah pribadi yang pengasih dan penyayang. Tentu saja sebagai pribadi yang dikasihi, Allah ingin kita semua untuk turut hadir dalam pestanya. Itulah mengapa rumah Allah harus penuh (Luk 14:23).

Dalam konteks Yahudi, acara perjamuan makan merupakan tradisi yang diadakan secara turun-temurun untuk merayakan Paska. Yaitu peristiwa dimana Allah membebaskan Bangsa Yahudi keluar dari perbudakan Mesir melalui perantaraan Musa. Biasanya acara perjamuan itu dihadiri oleh seluruh anggota keluarga dan dipimpin oleh bapa keluarga.

Namun, menghadiri perjamuan makan dalam rumah Allah, bukan hanya sekedar perut kenyang. Sebab sebagai pribadi yang dikasihi Allah, Ia mengundang kita untuk makan bersama sebagai orang-orang yang istimewa. Makan adalah kebersamaan dan ungkapan kegembiraan. Dimana dalam jamuan makan kita tidak hanya bersyukur atas rahmat yang kita terima, tetapi juga bersama-sama dengan Allah bergembira dalam misi penyelamatannya di dunia.

Pada dasarnya Allah memberikan kebebasan kepada kita. Nah, dihadapkan pada undangan tersebut, sekarang tinggal bagaimana sikap kita dalam menanggapi undangan Allah tersebut. Apakah kita mau hadir atau menolaknya. Allah mau kita semua hadir dalam meja perjamuan-Nya sebagai keluarga baru Kerajaan Allah. Sebab Yesus pernah berkata bahwa di rumah Bapa-Ku masih tersedia banyak tempat. Itu mengapa Allah mengundang kita semua untuk hadir sebagai tamu istimewa.

Hidup Lebih Ekaristis

Menghayati Ekaristi kita juga diajak untuk menjadi satu tubuh dengan Kristus. Dengan menerimakan komuni, kita juga secara aktif ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Kristus. Kita juga mesti bersyukur karena dengan menerima komuni kita juga ikut dalam persekutuan dengan Kristus. Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu (1Kor10:17). Umat Katolik disebut ”Tubuh”, bukan karena makan bersama, tetapi juga karena para anggota bersatu dalam Kristus. Jadi, ”Tubuh Kristus” sungguh merupakan lambang dan sekaligus mewujudkan ”Gereja yang satu”.[1] Dengan persatuan itu kita menjadi bagian dalam Tubuh Mistik Kristus dengan Kristus sendiri sebagai kepalanya.

Dalam poin ini saya ingin mengatakan bahwa sebagai pribadi yang dikasihi Allah, baiklah jika kita juga menjadi sumber pemersatu di tengah-tengah masyarakat kita. Hidup di dalam dunia yang sekular selalu membawa kita pada kenyataan dimana perselisihan selalu ada dimana-mana. Bahkan di dalam jemaat sendiri, roh pemecah-belah bekerja. Maka sebagai pribadi yang dikasihi Allah, sudah selayaknya kehadiran kita berperan dalam mempersatukan umat.

Seperti yang sudah saya bahas di atas bahwa Ekaristi juga merupakan perayaan kurban. Lalu, apa yang dikurbankan? Yang dikurbankan adalah Yesus sendiri. Wafat dan kebangkitan Kristus adalah inti pokok karya penyelamatan Allah. Betapa baiklah Allah yang menyerahkan Anak-Nya ke dunia untuk mengorbankan dirinya demi menebus dosa manusia. Sehingga relasi antara Allah dan manusia yang sudah terkoyak karena dosa dapat disatukan kembali melalui perantaraan Yesus Putra-Nya yang tunggal.

Refleksi

Saya setuju dengan Henri Nouwen yang mengatakan bahwa hidup ditengah-tengah dunia yang semakin sekuler, kita sebagai pribadi yang dikasihi Allah hanya bisa dicapai dengan membangun hidup yang semakin ekaristis. Walapun Henri Nouwen merasa bahwa kata dipilih, diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan cukup merangkum hidupnya sebagai manusia, bagi saya masih ada satu kata lagi yang baik bila tidak kita lupakan. Kata tersebut adalah disantap.

Seperti yang sudah saya bahas di atas bahwa puncak Perayaan Ekaristi adalah penerimaan komuni, begitu pula hidup kita. Kata disantap buat saya sangat mewakili hidup kita sebagai orang Kristen. Roti yang kita makan setiap kali kita mengadakan perayaan Ekaristi merupakan pengenangan akan Kristus yang memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai kurban perdamaian antara manusia dengan Allah. Karena peristiwa tersebut, kita masih bisa merasakan pengorbanan-Nya sampai sekarang. Yang mau saya katakan adalah bahwa perjamuan semacam itu sudah mengalami proses yang panjang sampai pada akhirnya bisa kita santap bersama. Nah, begitu pula hidup kita. Sebagai anak-anak Allah kita diutus ke dunia juga memiliki peranan terhadap orang lain.

Disantap bagi saya sama seperti berkorban demi orang lain. Kita ada untuk orang lain. Betapa di jaman yang semakin sekular semacam ini, egoisme kita semakin terpupuk dengan subur. Dalam konteks keadaan dunia yang semacam ini kita diajak untuk terlibat dalam kesulitan yang dihadapi kebanyakan orang. Paling tidak saya ingin mengatakan bahwa ketika kita menyantap tubuh Kristus, rasanya hidup kita disegarkan kembali untuk menghadapi hari-hari yang berat.

Begitu pula dengan kehadiran kita di tengah-tengah masyarakat. Semoga sebagai pribadi yang dikasihi Allah, Roh Kudus sendiri yang membimbing kita untuk berjalan di dalam dunia yang semakin sekuler. Sehingga kehadiran kita pada akhirnya juga membawa berkat dan rahmat bagi semua orang. Akhir kata biarlah Kristus sendiri yang bekerja dalam diri kita, sehingga suatu saat nanti kita berani berkata seperti Rasul Paulus: ”Mati bagiku adalah Kristus”.

Daftar Pustaka

Ardhi, FX. Wibowo., Sakramen Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Musakabe, Herman., Menuju Hidup yang Lebih Ekaristis. Flores: Citra Insan Pembaru, 2008.

Nouwen, Henri., Diambil, Diberkati, Dipecah, Dibagikan: Spiritualitas Ekaristi Dalam Dunia Sekuler. Yogyakarta: Kanisius, 2008


[1] Ardhi, FX. Wibowo., Sakramen Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 17.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: