Spiritualitas Yohanes Salib

johncrossYohanes Salib merupakan salah satu mistikus besar Gereja yang sangat istimewa.  Ia dikenal sebagai seorang mistikus, kontemplatif, teolog, dan seorang pembimbing rohani yang mahir dan mendalam. Tetapi sekaligus sebagai penyair yang luar biasa. Tulisan-tulisannya terhitung sebagai karya sastra yang penuh daya tarik bagi orang-orang yang mau mengembangkan hidup rohani maupun dari kalangan pengagum karya sastra. Tulisan-tulisannya yang terkenal adalah: The Ascent of Mount Carmel, The Dark Night of The Soul, The Spirititual Canticle, dan The Living Flame of Love.

Riwayat Hidup

Juan de Yepes y Alvarez lahir pada tanggal 24 Juni 1542 di Fontiveros, Spanyol pada Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Ia berasal dari keluarga penenun miskin walaupun sebenarnya ayahnya, Gonzalo de Yepes, berasal dari keluarga bangsawan. Ibunya, Catalina Alvarez adalah seorang penenun miskin dan karena perbedaan status sosial ini perkawinan mereka ditentang oleh keluarga Gonzalo. Oleh sebab itu Gonzalo memutuskan untuk meninggalkan gelar bangsawannya dan menjadi penenun miskin. Sejak kecil kecintaannya pada salib telah membimbingnya pada jalan menuju kesempurnaan dan karena hal ini ia lebih dikenal sebagai Yohanes Salib.

Pada tanggal 24 Februari 1563 Yohanes masuk novisiat Ordo Karmel di Biara Santa Anna di Medina del Campo dan pada tahun 1567 ia ditahbiskan sebagai imam. Kemudian ia bertemu dengan Teresa dari Avilla dan membantunya memperbaharui ordo yang kemudian lebih dikenal sebagai Ordo Karmelit Tak Berkasut. Namun usahanya ini malah menimbulkan ketegangan yang diakhiri dengan permusuhan. Pada 2 Desember 1577, Yohanes diculik oleh Biarawan Karmelit Taat dan ditawan di biara Karmelit di Toledo. Selama penyiksaan yang kejam ini ia mendapatkan pengalaman-pengalaman mistik yang diungkapkannya melalui puisi-puisi. Ia berhasil melarikan diri secara mukjizat pada tanggal 16 Agustus 1578.

Akhirnya, pada tanggal 13 Desember 1591 Yohanes Salib meninggal dunia dalam usia 49 tahun, dengan kata-kata: “Ke dalam tangan-Mu ya Tuhan, kuserahkan rohku.”

Todo-Nada dan Malam Gelap

Dalam menghayati Injil, Yohanes Salib menjalani hidupnya secara radikal dan sangat mendalam. Tujuan yang ingin dicapainya adalah persatuan cinta kasih dengan Allah yang mengubah segalanya. Untuk menjelaskan pengertian dari persatuan cinta kasih dengan Allah ini, Yohanes Salib menggunakan istilah Todo-Nada. Bagi Yohanes, walaupun hidup kita dipenuhi oleh berbagai macam kegiatan, namun sebenarnya adalah kosong (nada). Nada merupakan bagian dari sebuah proses mencapai kebebasan pribadi yang mendalam.  Maka, kita harus selalu mengusahakan untuk semakin bersatu dengan Allah Sang Mempelai. Persatuan itu dianggap sebagai pengalaman akan cinta Tuhan yang mendalam dan menerima Dia sebagai harta yang sejati. Disini, Tuhan menjadi segalanya (todo).

Secara radikal sekali Yohanes Salib menuntut untuk mencapai cita-cita rohaninya ini. Maka ia mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menempuh pencapaian ini. Jalan itu ia sebut sebagai Malam Gelap. Malam Gelap adalah pengosongan diri dalam segala bidang dan aktifitas insani. Baginya segalanya adalah kosong, kosong, kosong, dan kosong. Untuk mencapai pada kekosongan, jiwa haruslah terlebih dahulu ditarik oleh suatu tarikan yang lebih kuat, yaitu cinta kepada Allah yang membakar jiwa menjadi lautan api. Pengosongan diri hanya mungkin dilakukan bila orang telah lebih dahulu terbakar oleh api cinta kasih ilahi. Hanya dengan mematikan keinginan-keinginan dan penyangkalan segala kesenangan dalam segala hal, maka kita bisa mencapai persatuan ilahi dengan Allah.

Tahap pertama untuk melewati malam gelap adalah melalu malam gelap inderawi. Malam gelap indrawi yaitu melepaskan segala kelekatan dan keinginan tak teratur yang berhubungan dengan panca indra. Jadi, semakin hati orang dikuasai oleh keinginan macam-macam, semakin ia tidak mampu untuk menerima Allah dan untuk bisa melepaskan ”cinta” pada barang-barang duniawi, haruslah ada cinta yang lebih kuat kepada Allah. ”Dengan cara ini engkau harus berusaha untuk seolah-olah membiarkan panca indra dalam kegelapan, dimatikan dan dikosongkan dari segala kesenangan.”[1]

Tahap kedua untuk melalui malam gelap adalah melalui malam gelap rohani. Bagi Yohanes Salib untuk mencapai persatuan dengan Allah, orang juga harus mengosongkan diri dalam bidang yang menyangkut kegiatan intelektual, ingatan dan kehendak. Kenapa harus ditinggalkan? Alasannya karena Allah mengatasi segala gagasan, ide-ide, pikiran, dan pengertian kita.[2] Jadi, ingatan harus dibersihkan dari segala sesuatu yang bukan Tuhan, sehingga hanya ingatan akan Tuhan saja yang ada di dalam dirinya. Demikian pula kehendak harus seluruhnya terarah kepada Tuhan, tidak boleh ada sesuatu lain yang mengikatnya. Tuhan harus dicintai di atas segala sesuatu dan hanya Tuhan saja.[3]

Dengan demikian menurut Yohanes Salib, tangga pendakian rohani dapat ditempuh melalui sepuluh langkah, yaitu:

  1. Jiwa merindukan kemuliaan Tuhan sampai merasa sakit.
  2. Jiwa tak henti-hentinya mencari Tuhan.
  3. Jiwa tergerak berkarya demi Tuhan.
    1. Jiwa menderita, kecenderungan ’daging’ ditaklukkan dan Tuhan memberi kegembiraan.
  4. Jiwa sangat mengingini dan merindukan Tuhan tanpa sabar.
  5. Jiwa melaju kepada Tuhan dan merasakan sentuhanNya.
  6. Jiwa memperoleh keberanian yang bergairah.
  7. Jiwa berpegang pada Tuhan bagaikan kekasihnya.
  8. Jiwa bernyala dalam cintakasih.
  9. Jiwa diserupakan dengan Tuhan, – tentu saja sesudah kematian.[4]

Inilah beberapa ajaran Yohanes Salib yang luar biasa itu. Tentu masih banyak lagi tulisan-tulisannya yang lain yang bisa kita gali karena kekayaan syair-syairnya.

Daftar Pustaka

Heuken, Adolf., Spiritualitas Kristiani. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2002.

Indrakusuma, Yohanes., Cita-Cita Rohani St. Yohanes Salib. Cipanas: Pertapaan Shanti Buana, 2006.

McGreal, Wilfrid., Yohanes Salib. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001.


[1] Indrakusuma, Yohanes., Cita-Cita Rohani St. Yohanes Salib. Cipanas: Pertapaan Shanti Buana, 2009, hlm 34.

[2] Ibid. hlm 44.

[3] Ibid.  hlm 46.

[4] Heuken, Adolf., Spiritualitas Kristiani. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2002, hlm. 142.

Tentang Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua tulisan milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: