Demokritos dan Ajaran-Ajarannya

democritusBerdasarkan kekaguman yang sangat mendalam pada alam semesta, pada akhirnya para filsuf prasokratik berlomba-lomba mencari substansi pertama yang menjadi asal segala sesuatu (phusis). Begitu pula dengan Demokritos. Sebagai seorang filsuf prasokratik, ia juga mencoba menemukan substansi pertama itu. Maka dengan mengembangkan pemikiran Leucippus, ia mencetuskan konsep atom sebagai substansi pertama yang menjadi asal segala sesuatu. Berangkat dari konsep inilah Demokritos menjelaskan mengenai alam semesta.

Demokritos hidup dalam kurun waktu 460-370 SM dan ia lahir di Abdera di pesisir Thrake, Yunani Utara. Walaupun tahun kelahirannya lebih muda 10 tahun dari Sokrates, namun Demokritos tetap dimasukkan sebagai filsuf prasokratik. Salah satu alasannya adalah karena Demokritos masih terbatas pada alam pemikiran filsuf jaman prasokratik dan tidak seperti pemikiran filsafat gaya baru yang sedang berkembang pada jamannya[1].

Atom-Atom dan Kekosongan

Demokritos beranggapan bahwa prinsip dasar alam semesta adalah atom-atom dan kekosongan. Sehingga segala realitas yang ada itu dapat dijelaskan dengan mengacu pada gerakan-gerakan berbagai atom tersebut. Atom sendiri memiliki pengertian sebagai gugusan unsur-unsur terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (a=tidak, tomos=terbagi)[2].

Sedangkan konsep atom sendiri tidak dapat dipisahkan dengan adanya ruang kosong (void). Sebab pada dasarnya ruang kosong menjadi syarat mutlak bagi bergeraknya atom-atom itu. Hal ini yang membuat filsuf atomisme mengakui adanya ruang kosong, tidak seperti Zeno yang menolak adanya ruang kosong. Bagi para filsuf ini yang ada bukan hanya “yang ada” (being), tetapi juga “yang tidak ada” (not being). Maka ruang kosong adalah nyata.[3] Semua atom bersifat tidak termusnahkan, tidak dijadikan, tidak memiliki massa, tidak dapat diinderai karena memang ukurannya yang sangat kecil dan dengan menempati ruang, atom senantiasa bergerak. Namun yang membedakan antara atom yang satu dengan yang lain adalah bentuk (seperti huruf A berbeda dengan huruf N), urutannya (seperti AN berbeda dengan NA), dan posisinya (seperti N berbeda dengan Z)[4].

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa atom tak bisa tidak dipisahkan dari ruang kosong untuk senantiasa bergerak dan melalui gerakan itulah atom membentuk semua benda. Demokritos berpendapat bahwa pola dan arah gerakan atom tidak melulu ke atas atau ke bawah, tetapi lebih ke segala arah. Diibaratkan sama seperti debu yang bergerak ke segala arah di bawah sinar matahari walaupun tidak ada angin[5].

Selama bergerak dalam ruang kosong ternyata atom saling bertabrakan dengan atom-atom lain dan karena memiliki bentuk yang tidak teratur, atom-atom ini saling mengait dan mengunci, mengelompok dan berkombinasi membentuk segala benda yang dapat diindrai. Bagaimana ini bisa diindrai? Jawabannya adalah karena setiap benda yang dibentuk dari atom-atom mengeluarkan gambar-gambar kecil (eidola). Gambar-gambar ini diterima oleh pancaindra dan kemudian dipertemukan dengan jiwa yang juga tercipta oleh atom-atom. Bertemunya atom-atom gambar dan atom-atom jiwa inilah maka kita bisa melihat, membaui, mendengar dan merasakan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses pertumbuhan adalah hasil dari pengelompokan atom-atom sedangkan pembusukan adalah proses terurainya atom-atom.

Terciptanya Kosmos dan Manusia

Melalui konsep atom, Demokritos berpendapat bahwa alam semesta dan manusia juga tercipta dari atom-atom yang saling berkait. Pada mulanya atom-atom yang bergerak ke segala arah pada ruang kosong saling bertabrakan dan mengait. Kemudian atom-atom yang saling bergerak ini membentuk suatu gerakan berputar seperti angin puting beliung dan mulai menarik atom-atom. Atom-atom besar tertarik ke bagian pusat putaran dan berkumpul, sedangkan atom-atom halus terlempar ke pinggir. Akhirnya terciptalah alam semesta melalui proses ini.

Demikian pula manusia. Demokritos berpendapat bahwa manusia juga tercipta dari atom-atom yang saling berkait, tetapi yang menjadi perbedaannya adalah bahwa manusia tercipta dari kumpulan atom-atom yang sifatnya lebih halus (atom-atom api). Dalam jiwa manusia, bertemunya atom-atom benda dengan atom-atom jiwa tidak hanya memberikan berbagai sensasi bagi indera kita, tetapi juga memunculkan perasaan-perasaan tertentu tergantung dari kondisi atom-atom tersebut. Sehingga ada orang yang mengalami peristiwa yang sama tetapi mengalami perasaan yang berbeda.

Etika Demokritos

Demokritos adalah satu-satunya filsuf prasokratik yang telah memikirkan tentang hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Maka wajar saja kalau ajarannya ini belumlah tertata secara sistematis. Etika Demokritos yang dikenal sebagai Etika Euthumia lebih menekankan pada keadaan batin yang sempurna. Batin manusia dikatakan sempurna bila manusia hidup secara seimbang dengan menjunjung kebahagiaan jiwa. Ajarannya banyak menghasilkan kata-kata bijaksana yang bisa menjadi pedoman untuk sampai pada keseimbangan jiwa ini. Karena hanya rasio atau jiwa yang bisa menjaga keseimbangan ini, maka Demokritos menekankan untuk meredam keinginan duniawi dan mengembangkan kesederhanaan hidup. Pada akhirnya, memang sulit mencari hubungan antara teori atom dengan etika euthumia Demokritos dan dalam hal ini, Demokritos ingin menunjukkan keluasan pengetahuannya.

Akhir Kata

Mengupas ajaran-ajaran Demokritos memberikan kesan yang mendalam bagi kita semua. Tak bisa dipungkiri bahwa ajaran yang dibawa oleh Demokritos juga memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Di satu sisi teori atom merobohkan teori Parmenides yang menolak adanya ruang kosong dan ikut mengubah pandangan teori-teori filsafat setelahnya. Di satu sisi teori atom ikut mendasari pemikiran Isaac Newton dan Albert Einstein yang justru melalui rumusan matematis bisa dirumuskan secara ilmiah dan empiris daripada rumusan filsafat yang dikemukakan Demokritos.

Dengan demikian kehadiran Demokritos pada alam pemikiran Yunani kuno tidak bisa kita anggap remeh. Ia telah memberi sumbangan berupa pengembangan pemikiran atomisme yang dirasa memberikan aroma baru pada pemikiran di jaman itu. Demokritos berhasil merumuskan pandangan tentang perubahan benda material lewat perubahan atom-atom. Pada akhirnya pemikiran ini dianggap bisa menjadi penengah bagi argumen Parmenides dan Herakleitos.

Daftar Pustaka

Bertens, K., Sejarah Filsafat yunani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999.

Hadiwijono, Harun., Sari Sejarah Filsafat Barat. Jogyakarta: Penerbit Kanisius, 1980.

Sinnige, Theo Gerard., Matter and Infinity In The Prasocratic Schools and Plato. Netherland: Royal VanGorcum Ltd, 1968.

Stumpf, Samuel Enoch., Philosophy, History and Problems, 3ed., United State: McGraw-Hill, Inc, 1983.

Sudiarja, et al., Karya Lengkap Driyarkara. Jakarta: Gramedia, 2006.

Tjahjadi, Simon Petrus L., Petualangan Intelektual. Jogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004.


[1] Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani. Jogyakarta: Kanisius, 1999, hlm.75.

[2] Tjahjadi, Simon P. Lili., Petualangan Intelektual. Jogjakarta: Kanisius, 2004, hlm. 29.

[3] Hadiwijono, Harun., Sari Filsafat Barat. Jogyakarta:Kanisius, 1980, hlm.29.

[4] Bertens, K., Ibid. hlm.77.

[5] Stumpf, Samuel Enoch., Philosophy, History and Problems, 3ed., United State: McGraw-Hill, Inc, 1983, hlm. 25.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: