Roger Schutz

Roger Schutz

Roger Louis Schutz lahir di Swiss pada tahun 1915, di Desa Provence dekat kota Neuchatel. Ibunya adalah orang Prancis yang berasal dari Bourgogne dan ayahnya adalah seorang pendeta Gereja Reformasi.

Panggilan

Jalan panggilannya berawal ketika ia masih kecil dan melihat ayahnya berdoa di salah satu gereja Katolik. “Ini suatu kejutan besar bagiku”, katanya. Kemudian ketika SMA ia pernah menetap pada seorang janda Katolik dan mengagumi keluarga janda yang lemah secara ekonomi, tetapi juga percaya pada penyelenggaraan Ilahi, serta terbuka terhadap Tuhan dan sesama. Seiring perjalanan waktu ia masuk ke Fakultas Teologi Kalvin di Lausanne dan disinilah ia tertarik dengan hidup kerahiban, bercakap-cakap dengan anggota-anggota Tarekat Katolik dan seringkali menginap di biara-biara. Sejak pengalaman mengenai

Pertobatan

Keprihatinannya mengenai perpecahan agama Kristen membawanya pada suatu pencerahan yang mengubah seluruh hidupnya. Suatu malam ketika untuk ke sekian kalinya ia bertanya-tanya dalam hatinya: “Mengapa orang-orang, bahkan juga antara orang-orang Kristen sendiri saling bertentangan satu sama lain. Apakah di dunia ini ada suatu jalan yang dapat membantu kita untuk saling memahami?“ Pada malam itu, dengan secepat kilat ditemukan jawaban yang tetap mengesan di sepanjang hidupnya. “Kalau jalan untuk saling memahami itu ada, aku sendirilah yang harus memulai untuk memahami siapa saja. Pada malam itu aku yakin bahwa keputusanku itu definitif sampai aku mati.” Pengalaman ini muncul dari Yesus Kristus sendiri: “Belaskasih-Nya, kemampuan-Nya untuk mengasihi dan memahami orang lain.”


Sepak Terjang

Maka pada tahun 1940, ia mencari sebuah yang bisa ditempati bersama orang lain yang menghayati nilai-nilai Kristiani. Maka dipilihlah Desa Taize. Sebuah desa kecil yang telah hancur berat dari serangan Jerman. Ia membeli rumah ini dari seorang wanita miskin. “Kristus berbicara lewat orang-orang miskin. Kita harus mendengarkan mereka. Hubungan yang erat antara kita dengan mereka merupakan perwujudan iman kita yang tetap konkrit.” Pada musim gugur 1942 tentara Jerman menduduki Perancis dan mengambil rumah ini. Maka ia terpaksa menetap di Swiss, di Kota Geneva. Di sini ia meneruskan kehidupan komunitas yang dulu pernah ia dirikan bersama tiga sahabatnya. Dalam komunitas ini Bruder Roger menerima siapa saja.

Pada tahun 1944 Bruder Roger bersama sahabat-sahabatnya kembali lagi ke Taize. Di sini ia menerapkan kegiatan-kegiatan sederhana seperti mengolah ladang yang kurang subur, berdoa tiga kali sehari, dan menyambut banyak tamu yang ingin membina semangat rohani atau tertarik pada eksperimen biara. Mereka harus belajar menerima tamu dengan tangan terbuka, karena tamu yang kita terima dan layani adalah Kristus sendiri. “Hendaknya menerima tamu dengan rela dan hati terbuka.” (Bunyi salah satu peraturan.)

Aturan Biara

Semakin lama komunitas kecil Taize itu berkembang. Tanpa adanya rencana, kelompok ini menjadi suatu Tarekat pria Protestan yang pertama. Untuk mencapai cita-cita Bruder Roger, yaitu: “Mencampur ragi persaudaraan ke dalam adonan Gereja-Gereja yang terpisah.” Bruder Roger menerapkan beberapa peraturan yang harus diterapkan termasuk tiga keutamaan Injili.

1. “Mulai sekarang engkau harus selalu memperhatikan saudara-saudaramu.”Alasannya karena panggilan Tuhan tidak hanya tertuju pada satu orang saja, melainkan pada satu komunitas.

2. “Janganlah engkau berhenti di satu tempat, melainkan harus selalu maju bersama dengan teman-temanmu. Hendaklah engkau menjadi tanda kasih persaudaraan dan kegembiraan di tengah-tengah masyarakat.” Alasannya karena Yesus menerima dan menerangi dunia yang lamban dalam iman ini.

3. Soal kebersamaan, persaudaraan dan perikemanusiaan. “Ingatlah jikalau engkau berbicara dengan emosi, engkau menyakiti Kristus. Cegahlah perselisihan dengan saudaramu.

4. Soal persatuan. “Hendaklah kamu menjadi ragi persatuan.” Dengan begitu kehadiran kita ditengah-tengah oang lain membawa perdamaian dan bukannya sebagai pemecah belah.

Soal tiga keutamaan Injil: “Kami tidak dapat setia dalam panggilan kami, kalau kami tidak melepaskan hak milik pribadi, hak mengambil keputusan sendiri dan hak menikah.” Dasar dari menghayati tiga keutamaan ini ialah penyerahan diri kepada Kristus yang menuntut pengurbanan total.

5. Kemiskinan. “Keberanian menggunakan segala milik dengan sebaik-baiknya, tidak mencari modal, dan tidak takut untuk menjadi miskin, adalah sikap yang dapat memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa.”

6. Selibat. Dasar dari hidup selibat ini dimaksudkan agar semakin bertambahnya kebebasan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan sesama.

7. Janji menerima segala keputusan Prior / Ketaatan. “Agar tidak berkembang semacam sikap menang atau kalah, maka Prior mendapat tugas dari Tuhan untuk memutuskan tanpa terikat pada mayoritas suara.”

Keunikan

Ciri khas dari komunitas ini adalah mencari bersama jalan yang benar. Komunitas ini juga menghapus struktur birokrasi yang kaku. Makanya setiap akhir tahun mereka menghancurkan semua statistik dan dokumen. Mereka juga dikirim untuk hidup di tengah-tengah masyarakat miskin dan tertindas. Kegiatan aktif lebih efektif daripada khotbah.

Gerakan Ekumene

Pada akhirnya Komunitas Taize menjadi Tarekat Ekuimenis yang pertama dalam sejarah Gereja. Setiap tahun tamu yang datang tak kurang dari dua ratus ribu orang. Karena cintanya pada kaum muda, pada suatu hari Bruder Roger menciptakan suatu “Musyawarah Kaum Muda” yaitu pertemuan selama seminggu dan diadakan setahun sekali. Pada tanggal 30 Agustus 1979 berkumpullah 40.000 remaja di Taize dalam acara ini, menceritakan perihal kemiskinan, penindasan, dan kebiadaban di Negara mereka masing-masing.

Hubungan dengan Gereja Katolik

Lama-kelamaan banyak orang yang mempertanyakan apakah Taize ini Katolik atau Protestan. Beberapa kali Bruder Roger berkunjung ke Roma untuk menghangatkan cuaca dingin antaragama ini. Akan tetapi pada tahun 1948 Uskup setempat memberikan izin untuk memakai sebuah gereja kecil di Taize. Keputusan ini juga mendapatkan pengukuhan dari Duta Vatikan pada masa itu, yakni Roncali. Ketika dipilih menjadi Paus Yohanes XXIII, beberapakali dia menemui dan berbincang-bincang dengan para Bruder. Ternyata Paus Yohanes XXII membuka hati lebar-lebar bagi para Bruder, dan dua bruder boleh mengikuti sidang Konsili Vatikan II sebagai tamu sekretariat Persatuan Kepausan.

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: