Panti Wherda Caritas

Panti Wherda Caritas

Setitik Kasih dalam Kesendirian”

Menjadi tua adalah masalah yang akan dihadapi oleh semua manusia di muka bumi ini. Sekarang kita boleh bangga bila memiliki kepandaian, kekayaan, tubuh yang ideal, popularitas, dan sejuta kebanggaan lain yang kita dapat dari Tuhan. Tetapi suatu saat nanti, menjadi tua bisa membuat kita pikun, lumpuh, terserang berbagai macam penyakit, mudah lelah, merasa tidak berguna, dan akhirnya mati. Namun pada kenyataannya hal ini kerap kali tidak membuat manusia sadar bahwa pada saatnya nanti kita akan menjadi tua dan benar-benar tidak berdaya.

Ketika saya mendapatkan tugas live-in selama 10 hari di sebuah yayasan kemasyarakatan, saya memilih Yayasan Bina Bhakti Panti Wherda Caritas. Dalam pengamatan saya, panti yang merawat para lansia ini terasa agak berbeda dengan panti lain, karena sebagian besar penghuninya mempunyai riwayat kesehatan yang buruk dan pengalaman hidup yang muram. Setiap hari saya bertugas mulai pukul 04.30 pagi dan selesai bertugas pukul 16.00 sore. Tugas sebagai relawan ini saya lakukan pada tanggal 7 sampai dengan 17 Juli 2008.

Panti Wherda Caritas yang beralamat di jalan Kusuma Utara, Wisma Jaya, Bekasi Timur berada di bawah naungan Yayasan Bina Bhakti yang pusatnya ada di Serpong, Tangerang. Yayasan ini berdiri pada bulan September 1980 dengan kegiatan non panti. Dalam perjalanan waktu, pada tahun 1986, dibuka panti wherda di Serpong, Tangerang ini atas usulan seorang suster kepada Drs. R. Supardi selaku pimpinan yayasan yang memiliki jiwa sosial tinggi.

Pada tahun 1996 Yayasan Bina Bhakti mendirikan cabang di Bekasi, di atas tanah seluas kurang lebih 1100 meter persegi, yang diperuntukkan sebagai tempat penitipan anak dan TK. Letak yayasan cabang Bekasi ini, cukup nyaman, karena terletak di perumahan, tetapi memiliki lingkungan yang tenang. Namun merawat anak ternyata memiliki beban moril yang lebih besar, karena juga harus bertanggungjawab terhadap perkembangan kepribadian mereka. Maka dengan menutup tempat penitipan anak dan TK, dibukalah Panti Wherda Caritas. Pada tahun 1999, Caritas dengan resmi menangani kaum jompo secara aktif. Hal ini dilakukan dengan menampung pasien lansia untuk membantu panti jompo di Serpong yang kekurangan tempat.

Caritas memiliki jadwal harian yang relatif sama dari hari ke hari kecuali jika ada tamu yang mau datang berkunjung. Inilah kegiatan rutin mereka:

03.00 – 07.00 Bangun, mandi dan minum susu atau teh.

07.00 – 09.00 Sarapan dan ganti baju.

09.00 – 13.00 Berjemur dan makan siang.

13.00 – 14.00 Mandi

14.00 – 16.00 Santai sejenak.

16.00 – 17.00 Makan malam.

17.00 – 03.00 Tidur.

Caritas sudah memulai aktifitasnya sejak jam 3 pagi, dengan mulai memandikan penghuni panti. Hal ini dilakukan karena 80% dari total 47 pasiennya lumpuh. Sedangkan untuk oma dan opa yang masih sehat dapat menyesuaikan jadwalnya sendiri. Penghuni yang sudah tua itu rata-rata sudah terbangun pada pukul 3 pagi, sehingga mulai dimandikan satu demi satu. Bagi oma dan opa yang sehat, dapat jalan-jalan ke luar panti atas sepengetahuan suster, mereka juga diperbolehkan jajan. Pada sore hari, mereka yang sehat bisa menikmati tayangan televisi.

Para lansia makan dengan menu sederhana. Sayur dengan tempe atau tahu. Ayam hanya ada sesekali dalamsemingggu, kecuali jika ada sumbangan. Semua lansia yang sudah lumpuh disuapi oleh para suster.beberapa di antaranya makan dengan makanan yang harus diblender terlegih dahulu. Dalam menyuapi lansia di Caritas ini membutuhkan kesabaran extra, karena kadangkala beberapa diantara mereka sering menyemburkan makanan yang ada di mulutnya. Hal ini terjadi lebih karena pikun atau refleks yang sudah tidak baik lagi. Jadi bukan karena peringai yang negatif.

Khusus pada hari selasa, Caritas menerima kunjungan dari GBI (Gereja Bethel Indonesia) untuk mengadakan kebaktian. Sedangkan hari minggu oma dan opa akan menerima hosti dari prodiakon. Dari 47 penghuni lansia ini, kebanyakan dari mereka beragama Katolik, ada juga Kristen, Budha, dan dua orang beragama Islam.Menurut pengurus Panti, banyaknya kunjungan rohani ini membuat para pasien dapat mempertahankan semangat hidup yang cenderung menurun. Kunjungan dari para donatur atau pemerhati sosial biasa dilakukan pada pukul 10 pagi, Karena pada saat itu, seluruh pasien sudah mandi dan sarapan pagi. Biasanya para oma dan opa sudah disiapkan duduk manis, untuk kemudian mengikuti acara dari tamu yang berkunjung. Dokter memeriksa para lansia ini 2 bulan sekali.

Pegawai

Panti Wherda Caritas yang dipimpin oleh Bu Tati ini memiliki 22 karyawan yang siap membantu oma opa saat dibutuhkan. Sebelas suster menginap, seorang juru masak yang menginap, dan 2 orang juru masak lainnya pulang, 2 orang tukang cuci, seorang satpam, dan 3 orang tukang kebun. Ditambah Bu Tati sebagai kepala, dan putrinya yang ikut bekerja. Sebenarnya tugas mereka tidak hanya merawat oma opa, tetapi sekaligus berperan sebagai teman curhat dan teman bercanda. Menjadi pegawai di panti jompo ternyata membutuhkan ketelatenan tersendiri. Untuk memudahkan merawat oma opa, Caritas menempatkan suter-susternya di asrama. Sehingga ketika oma opa membutuhkan pertolongan, mereka dapat datang dengan cepat.

Para pekerja baru yang tinggal di asrama, mendapatkan gaji bersih dua ratus ribu sebulan. Saya rasa dibandingkan tanggung jawab yang harus mereka kerjakan setiap hari, gaji itu terlalu sedikit. Memang yayasan berusaha mencarikan jalan keluar untuk berbisnis MLM. Akan tetapi tidak semua karyawan dapat menjalankan bisnis MLM tersebut dengan sukses. Semoga ada solusi yang lebih baik untuk lebih menghargai kerja keras mereka.

Untuk merawat oma opa, Caritas memakai tiga kali pergantian kerja. Shift pertama antara jam 1 siang sampai jam 9 malam. Shift kedua antara jam 9 malam sampai jam 5 pagi. Shift ketiga antara jam 4 pagi sampai jam 1 siang. Bagi para suster, shift kedua merupakan yang paling berat karena mereka bekerja sendirian menjaga oma opa dan harus memandikan mereka sampai shift ketiga datang. Aturan di panti ini adalah memperbolehkan karyawannya berlibur bila sudah bekerja selama 5 kali pergantian jam kerja.

Selama saya ikut bekerja di panti, dan mengamati kegiatan para karyawannya ternyata aktifitas mereka hampir sama dengan keadaan di Seminari. Artinya, selain mereka mendapat jadwal kerja yang ketat, jatah makan yang sama, seringkali saya juga menyaksikan percekcokan mengenai masalah tertentu. Liburan adalah cara yang baik bagi para suster untuk mengembangkan emosinya. Memang tidak mudah bekerja di lingkungan para orang tua, yang sebagian sakit pula. Suasana murung tentu mempengaruhi perasaan mereka.

Oma Opa

Live in selama 10 hari di panti jompo sebenarnya bukan masalah yang rumit. Tetapi secara mental saya benar-benar diuji. Hari pertama, saya benar-benar shock, karena harus melihat situasi baru yang menurut saya sangat mengenaskan.

Banyak cerita miris seputar kedatangan mereka ke panti jompo ini. Biasanya karena masalah fisik yang sudah tidak normal lagi, masalah ekonomi juga masalah sosial. Masalah fisik jelas sekali memprihatinkan, selain terkena penyakit karena dimakan usia seperti pikun dan osteoporosis, banyak pula yang mengalami stroke. Sehingga badannya lumpuh dan sangat membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan ada beberapa kasus dimana keadaan mereka menjadi semakin buruk ketika memiliki beban pikiran yang berat.

Masalah ekonomi biasanya dialami oleh oma opa yang memiliki keterbatasan dana untuk pembiayaan penyakit mereka. Masalah sosial biasanya dialami oleh sebagian besar pasien di sini. Penolakan dari keluarga atau masyarakat sekitar karena sakit hati atau tidak mau repot merupakan faktor terbesar mereka berada di panti ini. Padahal sering sekali saya tercengang kalau mengetahui kehidupan mereka yang mapan sewaktu muda. Ada yang menjadi pengacara, guru di Australia, preman Pasar Senen, pelaut, pekerja travel bahkan ada yang hanya menjadi pembantu rumah tangga. Sedangkan sekarang, mereka menjadi manusia yang sangat mengenaskan karena tidak bisa apa-apa lagi.

Para lansia menjalani hari demi hari dalam “kesendirian”. Jumlah mereka 47 orang, tetapi lebih sering tenggelam dalam pikiran mereka sendiri-sendiri. Mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Setitik kasih setiap hari, sangat di butuhkan untuk mengalihkan mereka dari rasa sepi. Saya berharap akan ada banyak relawan yang mau mendengarkan curhat mereka. Paling tidak, mereka tidak terlalu kesepian, karena keluarga yang diharapkan datang tidak kunjung tiba, apalagi di tambah penderitaan yang mereka alami.

Harapan

Sebenarnya, oma opa tidak semuaya dimasukkan ke panti ini oleh keluarga mereka. Tetapi ada beberapa yayasan seperti Budha Suci dan Gereja yang memasukkan mereka ke panti ini. Alasannya karena keterbatasan dana atau karena tidak punya siapa-siapa lagi. Memasukkan oma opa ke Caritas sebenarnya sangat mudah. Yaitu dengan membawa surat keterangan dari dokter, umur minimal 60 tahun dan membayar biaya bulanan sebesar enam ratus ribu. Dengan syarat mudah tetapi dengan pelayanan baik sering membuat banyak orang ingin meletakkan orang tua mereka ke panti ini.

Bekerja di sebuah panti jompo merupakan pekerjaan yang berat. Tetapi bukan berarti Bu Tati dan para suster menjadi bosan. Bagi mereka, walaupun bukan kepuasan materi, tetapi ada kepuasan batin yang mereka dapatkan bila bisa melayani oma opa hingga ajal menjemput. Pekerjaan sosial merupakan pekerjaan yang mulia. Bu Tati dan para suster mengakui bahwa sering kali kisah hidup oma opa menjadikan mereka kaya akan nilai-nilai kehidupan. Sekarang, kekayaan materi tidak membuat mereka gelap mata, karena buat apa kaya raya bila pada akhirnya menjadi seperti oma opa yang tidak memiliki apa-apa dan terpuruk dalam kesedihan yang dalam serta tak pernah terselesaikan karena sudah tidak ada lagi yang peduli dengan mereka. Ada beberapa oma opa yang bertanya pada saya apakah dosa bila memohon kematian pada Tuhan. Sepertinya mereka menganggap bahwa kematian merupakan obat yang mujarab untuk lepas dari masalah duniawi yang selalu memberatkan mereka. Dan menurut saya, kesepian, putus asa, dan rasa lelah yang berkepanjanganlah yang menyebabkan mereka memiliki pandangan semacam ini.

Kitab Suci menuliskan bahwa manusia semakin tua akan semakin bijaksana. Tetapi kenyataannya semakin tua mereka semakin mirip dengan anak kecil. Pendapat yang bertolak belakang ini kerap kali membuat Bu Tati dan para suster bertanya-tanya. Berdasarkan penelitian mereka melalui cerita dan kisah dari orang yang menitipkan oma opa ke Caritas, ternyata dikarenakan hidup mereka yang tidak “lurus”. Seperti: berfoya-foya, main perempuan, tukang judi, tukang pukul, dan sejuta pengalaman buruk yang mereka lakukan. Oleh karena itu, sebagai yayasan Katolik, Bu Tati mencoba mengundang pihak Gereja untuk sekedar datang dan memberikan pelayanan doa, renungan atau kebaktian untuk mengobati kesendirian mereka, sekaligus mempersiapkan mereka dalam menyambut kematian. Gerejanya pun bisa berbeda-beda. Ada yang dari Gereja Kristen, ada pula yang dari Gereja Katolik. Sesering mungkin ia mendatangkan pelayanan doa dengan maksud mengisi kekosongan hati oma opa. Maka, ia sangat bersyukur bila ada oma opa yang bertobat atau paling tidak merubah peringai mereka menjadi lebih baik.(Nemesius Pradipta)

About Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua pos milik Depeholic

10 responses to “Panti Wherda Caritas

  • hartono

    tlg minta no tlp,atau fax panti wherda caritas,krn kami dari kantor mau kunjungan sosial…tp kami mau survey dulu kira2 apa yg paling dibutuhkan mrk…Thanks,ditunggu jawabannya

  • Victoria Susilawati

    Tolong informasinya, koordinator mudika Tambun (nama & alamat atau no hp)

  • yunan

    tolong PM untuk biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya perawatan per bulan/pertahun. thanx

  • Oey Kwan Hoo (Toni)

    Minta informasi biaya perbulan untuk 1 orang tua perempuan saya untuk dititipkan pada panti.
    TERIMA KASIH

  • Oey Kwan Hoo (Toni)

    Minta informasi biaya perbulan untuk orang tua yang perempuan saya,berumur 79 tahun , apakah masih bisa diterima dan bagaimana persyaratannya.
    TERIMA KASIH

    • imro

      pak toni sya w 26th gi cari pekerjaan,barangkali anda membutuhkan perawat untuk ortu anda,saat ini saya tinggal d bintaro jaksel.jika anda berminat tolong hubungi sya di 08819303902.tks imro

  • Alice Amelia Mantiri

    Shalom…
    Bu Tati, saya yang bernama Alice Amelia Mantiri, saya beragama Katolik.
    Saya tertarik ingin bekerja sebagai Juru Masak atau Perawat di Panti Caritas yang Ibu pimpin.
    Jika masih ada kesempatan untuk saya bekerja di Panti Caritas, dapat menghubungi saya di 082117654329… Terma Kasih…Tuhan Yesus Memberkati…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: