Bunuh Diri Di Indonesia

Bunuh Diri Di Indonesia


Bunuh Diri Sebagai Tren Baru

Dalam kultur Indonesia, bunuh diri merupakan hal asing dan sangat tabu untuk dilakukan. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sungguh-sungguh menunjukkan fakta yang sangat mengejutkan. Bunuh diri seakan-akan menjadi suatu tren yang mulai marak kita jumpai di Indonesia. Di Gunung Kidul pada tahun 1999 kasus bunuh diri ada 39 orang, pada tahun 2002 ada 29 orang, pada tahun 2003 ada 26 orang dan pada tahun 2004 ada 31 orang. Di DKI Jakarta pada tahun 2003 berjumlah 62 orang sementara pada tahun 2002 hanya mencapai 19 orang.[1]

Besarnya angka kematian karena bunuh diri di Indonesia kerap kali masih dianggap bukan masalah yang serius. Padahal sesungguhnya melakukan bunuh diri merupakan keputusan tertinggi yang diambil oleh seorang manusia untuk menghabisi hidupnya sendiri. Yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa keputusan ini diambil ketika seseorang dalam keadaan sadar dan tidak dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kasus bunuh diri yang kita jumpai mulai merengkuh generasi muda bangsa ini. Generasi muda yang merupakan cerminan masyarakat dan harapan bangsa ke depan, ternyata malah frustasi dan sangat mudahnya melakukan bunuh diri. Walaupun tindakan mereka tidak bisa dikatakan mewakili mental remaja kita secara umum, namun fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa remaja bahkan anak dibawah umur harus disingkapi secara serius.

Seperti yang diberitakan dalam koran harian Pikiran Rakyat bahwa dalam seminggu ada lima orang tewas karena gantung diri. Alasan mereka pun sangatlah beragam, ada yang karena tidak mampu membayar uang SPP, ada yang merasa tidak dipedulikan orang tuanya, dan ada pula karena tidak naik kelas.  Seperti Rahmat Fauzi, seorang pemuda berusia 17 tahun, nekat bunuh diri karena dikucilkan oleh teman-teman di lingkungan rumahnya. Aksi nekat ini dilakukannya di rumahnya sendiri.[2]

Sebenarnya faktor apa yang mendorong orang berani memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri? Dari berbagai ulasan yang pernah saya baca, keadaan ekonomi yang tak pernah membaik dari tahun ke tahun membuat sebagian besar rakyat bangsa ini putus asa. Pengeluaran yang besar tidak disertai dengan pemasukan yang besar, sedangkan tekanan hidup semakin hari semakin berat rasa-rasanya tak tertangguhkan lagi. Ketika seseorang dihadapkan pada keadaan ini, lama-kelamaan tingkat stress dan depresi yang mereka terima semakin berat. Pada akhirnya mereka merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memutuskan untuk mati. Bahkan tak jarang terjadi kasus bunuh diri yang melibatkan seluruh keluarga.

Mengapa Bunuh Diri

Bunuh diri sebenarnya tidak mencari maut, tapi dialami sebagai jalan penyelesaian masalah-masalah yang mendesak dalam hidup. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata bunuh diri memiliki arti sengaja mematikan diri sendiri. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 138).

Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, berpendapat bahwa setiap orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini disebut sebagai “integrasi sosial”.[3] Menurutnya, tinggi-rendahnya tingkat integrasi sosial dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri.

Dalam bukunya yang berjudul “Bunuh Diri”, Durkheim menuliskan bahwa masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingkat integritas rendah. Berdasarkan tingkat integrasi sosial yang berbeda-beda tersebut, Durkheim mengkategorikan kasus bunuh diri ke dalam tiga tipe, yaitu:

  1. Altruistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimiliki terlalu kuat. Artinya adalah bahwa seseorang yang memiliki tingkat integritas kelompoknya tinggi, maka akan semakin tinggi pula kerelaan anggota berkorban untuk kelompoknya dengan cara bunuh diri. Misalnya, seperti tentara Kamikaze Jepang pada Perang Dunia II yang rela menabrakkan pesawatnya ke daerah pertahanan musuh.
  2. Egoistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimilikinya lemah. Hal ini dikarenakan individu mengalami krisis kepercayaan terhadap masyarakat dimana ia tinggal. Sehingga  ia merasa tidak ada tempat lain lagi untuk berpijak kecuali rasa kesepian yang begitu menekan. Kasus bunuh diri ini sering terjadi pada anak remaja yang mengalami rasa malu atau rasa takut yang berlebihan. Misalnya seperti seorang anak yang gantung diri karena malu belum bisa membayar uang SPP.
  3. Anomic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri dikarenakan situasi eksternal yang menekan individu, seperti tekanan ekonomi, politik, dan psikososial lainnya.

Menurut Durkheim jika kita ingin mencari penyebab suatu kasus, maka harus

mempelajari, mengamati situasi, dan kondisi yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa tersebut lalu membandingkan dengan situasi dan kondisi lain yang melatarbelakangi mengapa peristiwa itu tidak terjadi.[4]

Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya.

Data ini semakin diperkuat dengan adanya penuturan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno, pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (8/10). Ia mengatakan bahwa faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup.[5]

Jelas ini sangat memprihatinkan, apalagi latar belakang para pelaku bunuh diri karena sakit yang tak kunjung sembuh ada 5 kasus, terhimpit masalah ekonomi 25 kasus, dan frustasi ada 9 kasus. Yang membuat miris, justru terbesar dilakukan petani sebanyak 22 kasus, swasta 10 kasus, buruh dan pelajar masing-masing 5 dan dua kasus.

Sementara untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta, dan seorang akibat depresi.

Tentu saja perubahan-perubahan yang mendadak terjadi dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi yang parah pada umumnya berkaitan dengan meningkatnya kasus bunuh diri. Masalah kemiskinan biasanya berdampak pada meningkatnya frustasi karena keinginan-keinginan yang diperlukan oleh masyarakat tak bisa dipenuhi. Akibatnya angka bunuh diri meningkat.

STOP Bunuh Diri

Berdasarkan data-data dan teori yang tertuang pada paragraf di atas, jelas sekali bahwa kemiskinan di Indonesia adalah faktor utama yang membuat orang nekat memutuskan untuk bunuh diri.  Apa lagi ditambah dengan adanya kerenggangan hubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Orang melakukan bunuh diri karena merasa tidak diperhatikan, tidak dianggap dan merasa tidak berarti lagi, sehingga menurutnya tidak ada gunanya lagi ia hidup.

Untuk itu kita perlu mengadakan upaya pencegahan terhadap pelaku bunuh diri, sehingga fenomena ini tidak menjadi tren di Indonesia. Kalau begitu siapa yang bertanggung jawab untuk mengupayakan pencegahan tindakan bunuh diri tersebut? Apakah masyarakat, pemerintah, atau orang yang melakukannya. Kalau dilihat dari latar belakang permasalahan bunuh diri di atas, memang ketiga-tiganya patut bertanggung jawab. Karena hubungan sosial yang terjalin antara masyarakat, negara, dan pelaku dalam suatu integrasi sosial adalah suatu kekuatan maha dasyat yang dapat melindungi masyarakat dari perasaan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Oleh sebab itu mereka wajib mengusahakan upaya ini secara optimal

Daftar Pustaka

Chang, William., Bioetika: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009.

Durkheim, Emile., Suicide. New York: The Free Press, 1966.

Rais, Muhammad., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol. 01 (2007): 65-88.

Wibowo, Tri Santoso., 50.000 Orang Indonesia Bunuh Diri. 2007. http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (Diunduh pada 28 November 2009).


[1] http://berbagi.net/content/view/627/137/ (diunduh pada tanggal 29 November 2009).

[2] Pikiran Rakyat 26/7/2006

[3] Anonim., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol.01 (2007): Hlm.160.

[4]Rais, Muhammad., Ibid,  Hlm.67.

[5] http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (diunduh pada tanggal 28 november 2009)

Tentang Depeholic

Saya selalu mencoba-coba menemukan informasi baru dalam dunia ini... saya sangat menyukainya apapun bentuknya, sebab pengetahuan akan mendewasakan saya pada waktunya. Lihat semua tulisan milik Depeholic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: