Brainstorming

Siddhartha dan Semut

Posted by: Depeholic on: Februari 7, 2010

Siddhartha dan Semut


Alkisah, suatu kali ketika Siddhartha duduk di atas sebongkah batu bulat di taman istana. Ia terpesona dengan sekoloni semut hitam yang sedang menguasai sarang rayap. Duduk berlama-lama di atas batu taman sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dalam hidup pangeran muda ini. Setiap hari selalu saja ada yang mempesonanya. Seperti arak-arakan awan-gemawan yang berbaris rapi menunggu kedatangan sang angin yang menjatuhkan butiran-butiran air ke permukaan bumi untuk membantu suatu kehidupan baru. Atau seekor lebah yang asik menghisap madu bunga mawar merah, namun tidak menyadari bahwa ada mahluk lain yang mengintip di balik daun untuk memangsanya. Atau bahkan memperhatikan kepompong yang bergayut pada sebuah ranting pohon. Ia memperhatikan kepompong tersebut berhari-hari sampai pada akhirnya seekor kupu-kupu terbang bebas dari dalamnya. Dengan susah payah kupu-kupu itu mencoba mendobrak cangkang kepompongnya untuk keluar sebagai mahluk baru. Menghirup udara segar bukan lagi sebagai ulat hijau yang menjijikkan, tapi sebagai kupu-kupu indah dengan dengan berbagai warna. Ia terbang melenggak-lenggok menunjukkan keindahan dirinya. Pangeran muda itu tersenyum setiap membayangkan kalau saja dirinya bisa keluar dari dirinya sendiri seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Terbang dengan genit mencari bunga-bunga bermandikan embun pagi penuh madu.  Namun, kali ini pandangannya tertuju pada koloni semut tersebut.

Tiba-tiba Prajapati, bibi sang pangeran, datang menghampiri Siddhartha yang masih terpesona dengan penemuan barunya. Prajapati menghentikan langkahnya di samping Siddhartha, memperhatikan hal yang sama dengan keponakannya.

“Siapa yang menang?” tanyanya.

“Itu tidak penting.” Jawab Siddhartha halus.

Siddhartha menyaksikan seekor semut tentara yang menggotong rayap muda dengan capitnya yang besar. Jalan semut itu terhalang kerikil besar. tidak peduli dengan beban yang ia bawa dua kali lipat dari besar tubuhnya, ia tetap mencoba memanjat kerikil tersebut yang ukurannya lima kali lebih besar dari tubuh si semut. Namun rupanya jalan yang ia tempuh terlalu curam, sehingga sedetik kemudian justru semut itu terpelanting jatuh. Si semut memanjat lagi, terpelanting lagi, memanjat lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Bodoh! Harusnya ia memilih untuk tidak melalui batu itu,” Prajapati berkomentar.

“Yang perkasa tidak memilih jalan memutar.” Siddhartha menggeleng.

“Memang semut seperkasa apa?” Lanjut Prajapati penuh keheranan.

“Semut itu menganggap dirinya perkasa. Itu yang penting.”

“Aku bisa menginjaknya. Kalau begitu dia seperkasa apa?” Prajapati tidak mau kalah.

Sambil tersenyum, ia menatap bibinya, lalu mengucapkan sesuatu, “Tuhan bisa menginjak ayahku, tapi beliau tetap menganggap dirinya perkasa.”

“Itu tidak sama!.” Prajapati membalasnya dengan cepat.

Siddhartha kembali tersenyum, kemudian ia mengangkat semut itu. Sambil menatap mainan barunya, ia berkata dengan tenang dan halus.

“Kalau kau menganggap dirimu perkasa, hanya itu yang penting. Tidak ada seorangpun sungguh-sungguh perkasa.”

Mendengar penjelasan Siddhartha, Prajapati tersentak tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Nb:

Kisah ini benar-benar menginspirasikan saya. Sebenarnya ide cerita ini berasal dari sebuah buku yang berjudul “Buddha” karya Deepak Chopra. Namun, karena saya sedang belajar menulis, saya mencoba menuliskan kisah ini dengan kata-kata saya sendiri dengan tidak mengurangi esensi dari kisah yang menakjubkan ini. Selamat menikmati.

Bunuh Diri Di Indonesia

Posted by: Depeholic on: Februari 7, 2010

Bunuh Diri Di Indonesia


Bunuh Diri Sebagai Tren Baru

Dalam kultur Indonesia, bunuh diri merupakan hal asing dan sangat tabu untuk dilakukan. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sungguh-sungguh menunjukkan fakta yang sangat mengejutkan. Bunuh diri seakan-akan menjadi suatu tren yang mulai marak kita jumpai di Indonesia. Di Gunung Kidul pada tahun 1999 kasus bunuh diri ada 39 orang, pada tahun 2002 ada 29 orang, pada tahun 2003 ada 26 orang dan pada tahun 2004 ada 31 orang. Di DKI Jakarta pada tahun 2003 berjumlah 62 orang sementara pada tahun 2002 hanya mencapai 19 orang.[1]

Besarnya angka kematian karena bunuh diri di Indonesia kerap kali masih dianggap bukan masalah yang serius. Padahal sesungguhnya melakukan bunuh diri merupakan keputusan tertinggi yang diambil oleh seorang manusia untuk menghabisi hidupnya sendiri. Yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa keputusan ini diambil ketika seseorang dalam keadaan sadar dan tidak dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kasus bunuh diri yang kita jumpai mulai merengkuh generasi muda bangsa ini. Generasi muda yang merupakan cerminan masyarakat dan harapan bangsa ke depan, ternyata malah frustasi dan sangat mudahnya melakukan bunuh diri. Walaupun tindakan mereka tidak bisa dikatakan mewakili mental remaja kita secara umum, namun fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa remaja bahkan anak dibawah umur harus disingkapi secara serius.

Seperti yang diberitakan dalam koran harian Pikiran Rakyat bahwa dalam seminggu ada lima orang tewas karena gantung diri. Alasan mereka pun sangatlah beragam, ada yang karena tidak mampu membayar uang SPP, ada yang merasa tidak dipedulikan orang tuanya, dan ada pula karena tidak naik kelas.  Seperti Rahmat Fauzi, seorang pemuda berusia 17 tahun, nekat bunuh diri karena dikucilkan oleh teman-teman di lingkungan rumahnya. Aksi nekat ini dilakukannya di rumahnya sendiri.[2]

Sebenarnya faktor apa yang mendorong orang berani memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri? Dari berbagai ulasan yang pernah saya baca, keadaan ekonomi yang tak pernah membaik dari tahun ke tahun membuat sebagian besar rakyat bangsa ini putus asa. Pengeluaran yang besar tidak disertai dengan pemasukan yang besar, sedangkan tekanan hidup semakin hari semakin berat rasa-rasanya tak tertangguhkan lagi. Ketika seseorang dihadapkan pada keadaan ini, lama-kelamaan tingkat stress dan depresi yang mereka terima semakin berat. Pada akhirnya mereka merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memutuskan untuk mati. Bahkan tak jarang terjadi kasus bunuh diri yang melibatkan seluruh keluarga.

Mengapa Bunuh Diri

Bunuh diri sebenarnya tidak mencari maut, tapi dialami sebagai jalan penyelesaian masalah-masalah yang mendesak dalam hidup. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata bunuh diri memiliki arti sengaja mematikan diri sendiri. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 138).

Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, berpendapat bahwa setiap orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini disebut sebagai “integrasi sosial”.[3] Menurutnya, tinggi-rendahnya tingkat integrasi sosial dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri.

Dalam bukunya yang berjudul “Bunuh Diri”, Durkheim menuliskan bahwa masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingkat integritas rendah. Berdasarkan tingkat integrasi sosial yang berbeda-beda tersebut, Durkheim mengkategorikan kasus bunuh diri ke dalam tiga tipe, yaitu:

  1. Altruistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimiliki terlalu kuat. Artinya adalah bahwa seseorang yang memiliki tingkat integritas kelompoknya tinggi, maka akan semakin tinggi pula kerelaan anggota berkorban untuk kelompoknya dengan cara bunuh diri. Misalnya, seperti tentara Kamikaze Jepang pada Perang Dunia II yang rela menabrakkan pesawatnya ke daerah pertahanan musuh.
  2. Egoistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimilikinya lemah. Hal ini dikarenakan individu mengalami krisis kepercayaan terhadap masyarakat dimana ia tinggal. Sehingga  ia merasa tidak ada tempat lain lagi untuk berpijak kecuali rasa kesepian yang begitu menekan. Kasus bunuh diri ini sering terjadi pada anak remaja yang mengalami rasa malu atau rasa takut yang berlebihan. Misalnya seperti seorang anak yang gantung diri karena malu belum bisa membayar uang SPP.
  3. Anomic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri dikarenakan situasi eksternal yang menekan individu, seperti tekanan ekonomi, politik, dan psikososial lainnya.

Menurut Durkheim jika kita ingin mencari penyebab suatu kasus, maka harus

mempelajari, mengamati situasi, dan kondisi yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa tersebut lalu membandingkan dengan situasi dan kondisi lain yang melatarbelakangi mengapa peristiwa itu tidak terjadi.[4]

Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya.

Data ini semakin diperkuat dengan adanya penuturan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno, pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (8/10). Ia mengatakan bahwa faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup.[5]

Jelas ini sangat memprihatinkan, apalagi latar belakang para pelaku bunuh diri karena sakit yang tak kunjung sembuh ada 5 kasus, terhimpit masalah ekonomi 25 kasus, dan frustasi ada 9 kasus. Yang membuat miris, justru terbesar dilakukan petani sebanyak 22 kasus, swasta 10 kasus, buruh dan pelajar masing-masing 5 dan dua kasus.

Sementara untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta, dan seorang akibat depresi.

Tentu saja perubahan-perubahan yang mendadak terjadi dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi yang parah pada umumnya berkaitan dengan meningkatnya kasus bunuh diri. Masalah kemiskinan biasanya berdampak pada meningkatnya frustasi karena keinginan-keinginan yang diperlukan oleh masyarakat tak bisa dipenuhi. Akibatnya angka bunuh diri meningkat.

STOP Bunuh Diri

Berdasarkan data-data dan teori yang tertuang pada paragraf di atas, jelas sekali bahwa kemiskinan di Indonesia adalah faktor utama yang membuat orang nekat memutuskan untuk bunuh diri.  Apa lagi ditambah dengan adanya kerenggangan hubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Orang melakukan bunuh diri karena merasa tidak diperhatikan, tidak dianggap dan merasa tidak berarti lagi, sehingga menurutnya tidak ada gunanya lagi ia hidup.

Untuk itu kita perlu mengadakan upaya pencegahan terhadap pelaku bunuh diri, sehingga fenomena ini tidak menjadi tren di Indonesia. Kalau begitu siapa yang bertanggung jawab untuk mengupayakan pencegahan tindakan bunuh diri tersebut? Apakah masyarakat, pemerintah, atau orang yang melakukannya. Kalau dilihat dari latar belakang permasalahan bunuh diri di atas, memang ketiga-tiganya patut bertanggung jawab. Karena hubungan sosial yang terjalin antara masyarakat, negara, dan pelaku dalam suatu integrasi sosial adalah suatu kekuatan maha dasyat yang dapat melindungi masyarakat dari perasaan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Oleh sebab itu mereka wajib mengusahakan upaya ini secara optimal

Daftar Pustaka

Chang, William., Bioetika: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009.

Durkheim, Emile., Suicide. New York: The Free Press, 1966.

Rais, Muhammad., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol. 01 (2007): 65-88.

Wibowo, Tri Santoso., 50.000 Orang Indonesia Bunuh Diri. 2007. http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (Diunduh pada 28 November 2009).


[1] http://berbagi.net/content/view/627/137/ (diunduh pada tanggal 29 November 2009).

[2] Pikiran Rakyat 26/7/2006

[3] Anonim., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol.01 (2007): Hlm.160.

[4]Rais, Muhammad., Ibid,  Hlm.67.

[5] http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (diunduh pada tanggal 28 november 2009)

Menjadi Manusia Utama

Posted by: Depeholic on: Januari 23, 2010

Albert Camus mengatakan bahwa kita ini adalah manusia yang terpental ke dunia. Kita tidak tahu kenapa kita hidup, sehingga tujuan hidup kita menjadi semakin tidak jelas. Banyak manusia yang  tidak menyadari tujuan hidup mereka sampai kematian menjemput. Sehingga mereka menjalani hidup tanpa arah dan tiba-tiba usia mereka sudah terlanjur tua untuk kembali menyelami hidup mencari pemaknaan diri. Tiba-tiba kita menjadi sadar bahwa umur manusia itu begitu pendek dan hidup begitu berharga, sedangkan waktu tak bisa dimundurkan atau dimajukan lagi.

Tentu saja manusia tidak hanya harus menemukan tujuan hidupnya, tetapi juga harus menjalani peran yang ditugaskan kepadanya oleh Tuhan. Dan lakon yang dijalaninya yang akan mewarnai serta menghantar mereka pada tujuan hidup mereka. Tentu saja kita tidak bisa berlari dari lakon yang sudah diberikan kepada kita. Tinggal bagaimana cara kita memandang dan menerimanya dengan lapang dada.

Menyadari bahwa hidup itu begitu berharga, oleh sebab itu kita tidak boleh berhenti untuk belajar. Belajar disini tidak hanya mengenai hal-hal yang diajarkan oleh berbagai lembaga pendidikan, tetapi juga belajar mengenai “hidup”.            Lebih tepatnya ialah bahwa kita belajar memaknai hidup, sehingga kita dapat mengetahui peran dan tujuan manusia diciptakan.

Memaknai sifat manusia kita harus belajar menjadi manusia utama. Dalam buku Ramayana misalnya, sangat menekankan bahwa menjadi manusia utama lebih penting daripada memiliki kerajaan dan kekayaan yang berlimpah harta dan makanan. Oleh sebab itu Rama dan Lesmana tidak keberatan ketika harus kehilangan kerajaannya, malah sebaliknya ia begitu menikmati menjadi pengembara yang penuh dengan cobaan tetapi semakin menghantarnya pada tujuan hidupnya.

Dalam kisah Ramayana dikatakan bahwa manusia memiliki delapan sifat yang harus kita miliki, terutama jika kita menjadi raja atau pemimpin. Delapan sifat tersebut menjadi pribadi kepemimpinan yang asalnya diambil dari watak delapan dewa. Dewa-dewa tersebut ialah: Batara Indra, Batara Surya, Batara Bayu, Batara Kuwera, Batara Baruna, Batara Yama, Batara Candra, dan Batara Brama.

Sifat Batara Indra adalah tegas, ingin bumi ini aman, tidak pandang bulu, siapa berbuat salah harus dihukum.

Sifat Batara Surya adalah tenang penuh welas asih, tidak perlu marah untuk membuat seluruh rakyat dan prajurit berbuat kebajikan.

Sifat Batara Bayu adalah berbudi pekerti luhur, sambil berlaku wajar dapat mengetahui manusia mana yang berlaku jahat dan bertingkah laku utama.

Sifat Batara Kuwera adalah bijaksana, penuh kepercayaan kepada pimpinan bawahan, “nora ngalem nora nutuh ” artinya tidak mudah mengeluarkan pujian tetapi juga tidak mudah mengeluarkan celaan.

Sifat Batara Baruna adalah waspada, sekalipun tidak digunakan setiap hari, belajar menggunakan senjata adalah penting, termasuk senjata ilmu.

Sifat Batara Yama adalah “rumeksa praja” atau menjadi pengawal utama atau bhayangkara Negara, nusa, dan bangsa. Di dalam dunia keprajuritan tidak boleh ada yang berbuat jahat.

Sifat Batara Candra adalah “Apura saranira” artinya bersifat penuh maaf, tutur katanya menimbulkan ketentraman batin semua orang. Kehadirannya menimbulkan senyum dan tawa.

Sifat Batara Brama adalah “Rumeksa gung anom, marisa maring wadya balane, ngelu mules waras den kawruhi ” artinya menaruh perhatian yang sebesar-besarnya kepada anak-anak muda, memperhatikan kehidupan semua orang, mengetahui apakah mereka sakit atau sehat.

Demikian delapan sifat yang harus dimiliki oleh manusia diatas adalah isi dari wejangan Ramawijaya kepada Wibisana, penguasa Kerajaan Alengka yang baru. Sebagai manusia tentu saja Ramawijaya sudah menemukan peran dan tujuan hidupnya sebagai titisan Batara Wisnu sejati dalam pengembaraannya yang berat. Bahkan ia sendiri yang sebenarnya dewa juga tidak bisa terlepas dari keterbatasan manusia, mencoba menemukan dan mengatasi sifat kemanusiaannya dengan berlatih ilmu terus-menerus. Dengan begitu Ramawijaya akan selalu disadarkan akan peran yang diembannya serta berusaha untuk menyelesaikannya.

Kisah Ramawijaya benar-benar memberikan inspirasi yang luar biasa dalam menemukan pemaknaan diri manusia. Kita semua diajak untuk mengejar sifat manusia utama dari apapun yang ada di dunia sehingga pada akhirnya kehadiran kita memberikan makna bagi orang-orang dimanapun kita berada. Sudahkah kita menjadi manusia utama???

Daftar Pustaka

D.M. Sunardi., Ramayana, Balai Pustaka,  Jakarta, 1992

Dampak Media Terhadap Masyarakat

Posted by: Depeholic on: Januari 23, 2010

Secara perlahan namun pasti, media mengalami perubahan secara dramatis, baik dalam hal peran maupun jenisnya. Dalam masyarakat peran media sebagai institusi edukatif lambat laun bergeser menjadi institusi produktif. Hal ini dikarenakan perubahan sosial yang begitu cepat serta tuntutan-tuntutan dari para penanam modal. Beragamnya selera konsumen juga ikut mempengaruhi media dalam menampilkan acara-acara yang dominan disukai serta untuk memenangi persaingan di dunia industri media. Akibatnya media kehilangan idealismenya sebagai saluran penyampai berita.

Dampak Media

  1. Perubahan yang dihadapi media memberikan wajah ganda bagi industri media. Di satu sisi media dianggap sebagai agen perubahan, namun disisi lain media juga berperan sebagai agen perusak. Hal ini bisa kita saksikan dengan munculnya kasus-kasus dimana seseorang atau suatu lembaga menjadi merasa terganggu dengan adanya pemberitaan di media yang cenderung menimbulkan sensasi-sensasi baru.
  2. Demi mengejar rating dan popularitas, kinerja media sebagai penyalur berita pada akhirnya hanya menampilkan siaran murahan yang disukai oleh pemirsanya. Akibatnya media kehilangan peran pentingnya sebagai sarana yang mencerdaskan bangsa, sehingga tidak berani menampilkan acara-acara baru. Sebaliknya media acapkali menampilkan acara-acara dan informasi yang tidak bermutu.

Dampak Masyarakat

  1. Sebagai industri yang menuruti kemauan dari para pemimpin modal, masyarakat tidak bisa menuntut tayangan-tayangan baru yang lebih bersifat edukatif. Masyarakat hanya bisa menerima acara-acara yang tidak bermutu.
  2. Media juga sangat berperan dalam menanamkan nilai-nilai baru dan membangun pandangan-pandangan bagi para pemirsanya. Masalahnya adalah ketika media malah memberikan tayangan-tayangan yang tak layak tampil.

Daftar Pustaka

Bungin, Burhan., Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana, 2006.

Happy New Year 2010

Posted by: Depeholic on: Januari 10, 2010

Tak terasa sudah sudah dipenghujung 2009…..Sekiranya semua kegagalan dan putus asa sudah berada di belakang kita dan sekarang itu semua hanya menjadi masa lalu. Kalau dipikir-pikir ternyata masa-masa suram seperti itu sudah menjadi sejarah dalam hidup saya dan rupanya bisa saya lalui dengan lapang dada.

Sedangkan 2010 sudah berada di depan mata. Seperti  hamparan padang rumput nan indah permai yang penuh susu serta madu. Ketika saya memandang padang tersebut, saya menyaksikan mimpi-mimpi serta harapan yang kembali bermekaran bersama embun pagi yang jatuh. Semoga di tahun ini saya kembali berani berjuang merengkuh mimpi dan cita-cita. Biarlah pengalaman tahun lalu menjadi semangat bagi saya untuk terus berkarya. Jangan lelah dan tetap tersenyum. Selamat Tahun Baru 2010.

Teaching Other To Pray

Posted by: Depeholic on: Desember 14, 2009

Teaching Other To Pray”

Oleh: William A. Barry, S.J.

Berdoa merupakan kegiatan yang selalu ada dalam setiap agama. Namun seringkali berdoa juga menjadi hal tersulit bagi beberapa orang untuk dilakukan. Yesus juga mengajarkan kepada murid-muridnya suatu bentuk doa yang sekarang lebih dikenal dengan doa Bapa Kami. Jadi, jika ingin mengajarkan orang lain untuk berdoa, ajarkan saja doa Bapa Kami yang memang adalah doa yang Yesus ajarkan sendiri kepada para muridnya (Luk 11:1). Tetapi tetap saja ada orang-orang tertentu yang merasa bahwa berdoa adalah suatu kegiatan yang sulit. Artikel ini ingin memaparkan beberapa cara yang berbeda untuk membantu mereka yang kesulitan berdoa dan saran-saran bagi siapa saja yang ingin menjadi pembimbing spiritual.

Sebelum masuk ke dalam bahasan ini, penulis menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa itu doa. Berdoa adalah suatu kegiatan dimana kita menyatukan imajinasi, pikiran dan emosi untuk menjadi sadar akan kehadiran Tuhan. Dalam rumusan diatas, imajinasi merupakan hal yang penting karena orang yang berdoa harus bisa menghadirkan Tuhan dalam pikirannya. Dengan begitu ia akan terbantu untuk semakin mengenal Tuhan yang telah menciptakan kita dengan cinta.

Gambaran Akan Allah

Dalam artikel ini, penulis memulai dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana seseorang bisa berdoa dengan baik kepada Bapa bila dalam hidup, mereka pernah mengalami  perlakuan kasar dari orang tua mereka, khususnya ayah. Pastinya sulit mengenalkan doa Bapa Kami kepada orang yang memiliki pengalaman traumatis semacam ini. Mereka akan sangat kesulitan menemukan konsep Bapa yang baik seperti dalam doa Bapa Kami. Maka, sebelum membantu seseorang untuk belajar berdoa ada baiknya jika mengetahui bagaimana mereka berdoa. Banyak orang memiliki gambaran akan Allah yang sangat beragam dikarenakan pengalaman mereka dengan orang tua mereka. Pengalaman traumatis merupakan pengalaman yang paling sering mengaburkan gambaran mereka tentang Allah. Sedangkan memiliki gambaran akan Allah yang baik sejak dini merupakan kunci penting untuk percaya kepada-Nya.

Berhadapan dengan orang yang berpandangan semacam ini haruslah dihadapi dengan sangat serius. Mengubah pandangan mereka tentang Tuhan bukanlah perkara mudah. Hal ini dikarenakan bahwa gambaran tentang Tuhan dibentuk semenjak kita kecil. Pengalaman traumatis yang mewarnai masa kecil akan berakibat pada cara pandang kita terhadap Tuhan. Pengalaman ini akan membekas secara psikologis dan sulit disembuhkan. Pada bagian ini penulis mencoba membagikan pengalamannya ketika membantu orang-orang yang memiliki pengalaman seperti ini untuk berdoa.

Latihan pertama yang diberikan adalah dengan memunculkan pengalaman akan kehadiran Allah dalam hidup kita. Jika sudah menemukan pengalaman tersebut, kita diajak untuk mengulangi terus pengalaman itu dalam doa, sampai pada akhirnya pengalaman itu dapat menggantikan pandangan buruk kita. Selama masa pengolahan, mereka kita berikan perikop dari Kitab Suci yang mengisahkan sosok Allah yang penuh kasih.   Poin penting dalam bagian ini adalah bagaimana memberikan dorongan bagi orang yang memiliki gambaran negatif tentang Allah, dengan begitu mereka bisa menemukan dalam pengalaman mereka tentang pandangan yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Hal ini dimaksudkan supaya dengan berdoa mereka bisa semakin percaya kepada Allah.

Penulis juga menganalogikan bahwa berdoa seperti membangun relasi dengan Allah. Maka, untuk mengembangan relasi tersebut dibutuhkan keterbukaan dan hasrat yang besar untuk mengenal Allah secara lebih mendalam. Demikian latihan-latihan yang perlu dilakukan jika kita menemui orang yang memiliki gambaran negatif tentang Allah, namun mau berkembang dalam doa.

Mengembangkan Hidup Doa

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memiliki gambaran positif tentang Allah, yang melalui hidup doa ingin semakin memperdalam relasinya dengan Tuhan. Hal pertama yang diperlukan untuk membantu orang-orang semacam ini adalah menemukan apa yang direncanakan Tuhan bagi kita. Caranya adalah dengan menyiapkan waktu kosong untuk berdoa sambil menyadari kehadiran Tuhan. Waktu yang diperlukan tidaklah harus setiap hari dan lama, tetapi cukup bila kita bisa masuk kedalam keheningan untuk bertemu dengan Tuhan. Dengan keinginan kuat, kita bisa bertanya kepada Tuhan mengenai rencana Tuhan terhadap kita. Kemudian berikan kesempatan bagi-Nya untuk menjawab doa kita ini.

Biasanya, pada awalnya kita akan merasa kalau berdoa itu sangat mudah dan menyenangkan, namun tiba-tiba kita akan merasakan kekeringan yang luar biasa dasyatnya. Seakan-akan Allah sudah tidak menyayangi kita lagi dan rasanya hidup terasa hampa. Ketika seseorang sedang berada dalam keadaan ini, biasanya mereka mempertanyakan kembali apakah Allah masih mencintai mereka. Karena penulis adalah seorang Jesuit, maka untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan semacam ini, ia mengenalkan dinamika ”Minggu Pertama” dari buku Latihan Rohani. Latihan-latihan yang diberikan memuat meditasi tentang tiga dosa, sekaligus memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menjawab doa kita. Hal yang perlu disadari adalah bahwa kita mesti percaya kalau Roh Kudus akan membawa kita kembali ke jalan Tuhan.

Selain itu ada latihan lain yang bisa membantu siapapun yang mau mengetahui kalau dirinya masih dikasihi Tuhan walaupun telah berdosa kepada-Nya. Caranya adalah dengan duduk di depan salib Kristus dan menatap kedalam matanya yang sendu. Dengan begitu kita akan mengetahui melalui sorotan mata-Nya bahwa Allah dengan sungguh-sungguh mengasihi kita dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal.

Banyak orang yang telah sejauh ini mengembangkan relasinya dengan Tuhan menginginkan untuk mengenal Yesus secara lebih baik dalam rangka untuk lebih mencintai-Nya dan mengikuti Dia secara lebih dekat. Dorongan untuk semakin mengenal Kristus ini bisa dikembangkan dengan mengikuti dinamika ”Minggu Kedua” dari buku Latihan Rohani. Latihan ini mengajak kita untuk mengkontemplasikan hidup Yesus melalui Kitab Suci, khususnya Injil Markus. Latihan ini diharapkan bisa menyingkap pribadi Yesus dan dengan begitu keinginan kita untuk semakin mengenal Dia bisa terpenuhi. Berkontemplasi dalam membaca Kitab Suci akan mencerahkan pikiran kita akan kehidupan Yesus. Setelah mencoba latihan ini, penulis menyarankan supaya kita merenungkan kembali perikop tersebut dengan lebih perlahan. Dengan begitu relasi yang kita bangun dengan Yesus bisa semakin mendalam.

Terkadang memiliki hubungan yang intim dengan Yesus membawa kita untuk ikut merasakan penderitaan dan kematian-Nya yang luar biasa. Untuk bisa masuk ke dalam pengalaman rohani semacam ini, memang dibutuhkan kesabaran. Mengkontemplasikan hal ini memang tidak mudah, namun bila kita terus mencoba kita juga akan dibawa pada pengalaman kebangkitan-Nya yang mulia. Karena, untuk mengalami sukacita kebangkitan, kita juga harus mengalami kejamnya penyaliban Kristus.

Untuk memenuhi eksposisi dari Latihan Rohani yang bertujuan untuk mengembangkan relasi dengan Tuhan, kita dapat mengacu pada bagian akhir dari kontemplasi minggu keempat pada buku Latihan Rohani. Kecintaan kita pada Tuhan akan membuka kesadaran akan hidup. Kita diajak untuk mensyukuri kehidupan yang telah diberikan Allah. Akhirnya akan timbul hasrat dalam hati kita untuk bersatu dengan Allah. Pengalaman ini kita akan tertanam dalam hati dan pikiran kita untuk selalu berusaha menemukan Allah dalam segala hal. Jadi, inti dari bagian ini adalah bagaimana cara kita untuk dapat mencintai dan melayani Tuhan di dalam setiap hal di dunia ini. Dan hal tersebut dilakukan dengan suatu metode yang dinamakan sebagai kontemplasi dalam aksi.

Doa Gereja

Pada akhirnya, penulis tidak saja menunjuk Latihan Rohani sebagai satu-satunya metode untuk mengembangkan hidup doa kita, tetapi kita juga bisa menggunakan doa Gereja. Misalnya doa Rosario. Doa ini berisikan lima belas ”misteri” yang mencakup seluruh kehidupan Yesus dan Maria. Ignasius juga menyarankan dua sikap dalam mendoakan doa-doa Gereja. Pertama, ialah dengan mengucapkan doa secara perlahan-lahan dengan berhenti pada setiap kata-kata sambil tetap merenungkan makna kata-kata tersebut bagi hidup kita. Kedua, ialah dengan menyesuaikan kata-kata dengan tarikan nafas. Satu frasa satu nafas sampai seluruh doa diselesaikan.

Akhir kata, bagi siapa saja yang belajar mengembangkan hidup doa secara serius pasti akan mengalami banyak kegoncangan. Di satu sisi mereka akan merasa sangat bergembira dan berkobar-kobar, di satu sisi mereka akan mengalami kebosanan dan putus asa. Bagi Ignasius, pengalaman semacam itu memiliki arti yang besar untuk mengembangkan relasi yang intim dengan Tuhan. Pengalaman konsolasi dalam mengembangkan iman, harapan, dan kasih merupakan tanda bahwa Allah ikut bekerja dalam hidup kita. Maka, bagi siapa saja yang ingin secara serius membantu orang lain melalui hidup doa, penulis sangat menekankan akan kepiawaiannya dalam hal pembedaan roh serta berpengalaman dalam bimbingan rohani. Baca entri selengkapnya »

Diambil, Diberkati, Dipecah, dan Dibagikan

Posted by: Depeholic on: Desember 14, 2009

Diambil, Diberkati, Dipecah, Dibagikan

Oleh: Henri J. Nouwen

Hidup sebagai Pribadi yang Dikasihi”

Menurut Henri Nouwen, sebagai pribadi-pribadi yang dipilih, diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan, kita dipanggil untuk menghayati hidup kita dengan kegembiraan dan damai batin yang mendalam. Sebagai pribadi yang dikasihi Allah, kita telah diambil dan Allah telah memilih kita sebagai mahluk yang khusus, istimewa dan berharga. Kesadaran kita sebagai pribadi yang dipilih Allah secara istimewa harus bisa membuka mata kita untuk melihat bahwa orang lain juga pibadi-pribadi yang dipilih. Dalam rumah Allah ada banyak tempat. Ada tempat untuk setiap orang lain yang juga berharga dan mempunyai tempat yang istimewa di hati Allah.

Sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, kita juga diberkati. Berkat lebih dari pada sekedar kata-kata pujian atau pengharapan. Memberi berkat berarti meneguhkan, mengatakan ”ya” atau mengakui bahwa orang itu adalah pribadi yang dikasihi. Tapi peneguhan hidup dengan baik adalah hal yang berat. ”Diberkati” sungguh merupakan tanda bahwa kita adalah pribadi yang dikasihi. Dengan begitu kita akan terus-menerus disadarkan kalau Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, bahkan kita dituntun oleh kasih dalam setiap langkah kehidupan kita.

Bagi Henri Nouwen keadaan kita sebagai pribadi yang terpecah-pecah menyatakan mengenai siapa diri kita sebenarnya. Setiap orang menderita dengan cara khusus yang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Itulah sebabnya kita merasakan perlakuan yang istimewa ketika seseorang membagi-rasakan sebagian beban-beban hidupnya dengan kita. Sebab, pengungkapan sisi lemah diri adalah tanda kepercayaan mereka kepada kita.

Segi keempat dari hidup sebagai pribadi yang dikasihi adalah dibagi-bagikan. Kebahagiaan kita justru menjadi penuh kalau kita memberikan diri kita bagi orang lain. Sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, kita juga dipanggil untuk menjadi roti bagi yang lain. Hanya melalui hal ini kematian kita tidak menjadi sia-sia, tapi menjadi rahmat bagi yang lain.

Namun, untuk bisa sampai pada tahap ini Henri Nouwen menyatakan bahwa kita tidak perlu menolak hal-hal yang ditawarkan dunia seperti: uang, prestasi dan keberhasilan. Apalagi sampai mengesampingkan ambisi dan cita-cita. Sebab, hidup sebagai pribadi yang dikasihi adalah bagaimana kita memperjuangkan dan meyakini kebenaran rohani kita dan hidup dalam dunia tetapi sebagai yang bukan milik dunia.

Henri Nouwen meyakini bahwa ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa dinikmati dan memang untuk kita nikmati. Namun kita hanya bisa menikmati sungguh-sungguh semua hal baik yang ditawarkan dunia kalau kita dapat mengakui bahwa itu semua adalah peneguhan atas kebenaran bahwa kita adalah pribadi yang dikasihi Allah. Kebenaran itu tidak hanya membuat kita mampu menerima dunia dengan penuh rasa syukur, tetapi juga membuat kita mampu melepaskan semua yang mengganggu dan mengacaukan kehidupan Roh yang ada dalam diri kita.

Ia mengajak untuk memandang diri kita sebagai orang yang diutus ke dunia. Secara rohani kita bukanlah milik dunia. Maka sebagai orang yang diutus ke dunia, hendaknya kehadiran kita di antara semua orang membuat mereka melihat secercah hidup yang sejati. Ketika kita sadar bahwa kita diutus ke dunia, maka segala sesuatu berubah secara perlahan dan menjadi bening.

Gampangnya, hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk menjadi diri sendiri, untuk menegaskan hakikat rohani kita sendiri, meyakini kebenaran kita, mengintegrasikan realitas keberadaan kita dan menjadikannya milik kita, terutama kepada Dia yang mengakui kita sebagai pribadi yang dikasihi.

Henri Nouwen mengatakan bahwa rahasia Allah yang tidak akan pernah terselami ialah bahwa Allah adalah Pencinta yang ingin kita cintai. Dia yang mencintai kita, juga menantikan tanggapan kita. Allah tidak hanya mengasihi kita, tetapi juga mempertanyakan apakah kita mengasihi-Nya. Tentu saja Allah memberikan kesempatan yang tidak terhingga bagi kita untuk menjawab ”ya”. Inilah hidup rohani: kesempatan untuk mengatakan ”ya” atas kebenaran batin kita. Bagi Henri Nouwen, hidup rohani yang dipahami dengan cara seperti ini dapat mengubah secara mendasar segala sesuatu. Dan pada setiap titik perjalanan hidup kita selalu terdapat pilihan untuk menjawab ”ya” atau ”tidak”. Menghayati hidup rohani berarti menghayati hidup sebagai realitas yang bulat. Kekuatan kegelapan adalah kekuatan yang memecah, memisah-misah dan memperlawankan. Sedangkan Roh mempersatukan.

Menurut Henri Nouwen, Roh Allah, yang mengganggap kita sebagai pribadi yang dikasihi adalah Roh yang mempersatukan dan membuat utuh. Kalau Roh bekerja, perpecahan yang dikarenakan kekuatan kegelapan akan hilang dan kesatuan batin maupun lahir menampakkan diri. Ia mengatakan bahwa hal terpenting adalah kalau keseluruhan hidup sehari-hari kita hayati ”dari atas”. Artinya, sebagai pribadi yang dikasihi Allah dan diutus ke dunia, merupakan kesempatan kita untuk memilih hidup yang tidak dapat dikalahkan oleh maut.       Kita diutus ke dunia dalam jangka waktu yang pendek untuk menyatakan ”ya” kepada kasih Allah yang telah diberikan kepada kita. Dengan demikian kematian menjadi saat kita dibawa kembali kepada Allah. Namun, hal ini hanya bisa terlaksana bila seluruh hidup kita adalah perjalanan kembali kepada Dia yang menyebut kita sebagai pribadi yang dikasihi. Hidup sesudah kematian merupakan penyingkapan secara utuh dan penuh dari yang sudah kita hayati dan alami dalam hidup kita. Henri Nouwen menunjuk Injil Yohanes yang mengatakan, ”Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak, akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yoh 3:2).

Dengan keyakinan ini kematian bukan lagi peristiwa yang harus ditakuti dan dihindari sebisa mungkin, namun sebaliknya merupakan jawaban ”ya” yang terakhir. Jawaban yang menghantar kita sebagai anak-anak Allah. Sehingga kematian dihayati sebagai kepenuhan. Henri Nouwen meyakini bahwa kita diutus ke dunia merupakan hal yang sangat menggembirakan bahkan mencengangkan, lebih-lebih karena Dia yang mengutus kita menantikan kita untuk kembali ke rumah dan menceritakan semua yang sudah kita pelajari. Henri Nouwen tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dengan kematian, bahkan kematian adalah tindakan kasih yang paling besar. Tindakan yang membawa saya masuk ke dalam pelukan Allah, yang kasih-Nya tanpa batas. Baca entri selengkapnya »

Mencari Tuhan

Posted by: Depeholic on: November 21, 2009

 

Mencoba memahami Kristus untuk saya bukanlah masalah yang mudah. Sebagai seseorang yang hidup dalam lingkungan Gereja, suatu saat saya tersadar bahwa Kristus yang tiap hari saya sebut nama-Nya, pada akhirnya toh sepertinya saya tidak mengenal Dia. Saya bersyukur bahwa kedua orang tua saya sudah mengajari saya untuk percaya kepada-Nya. Sehingga saya semakin diajak untuk mengenal siapa yang saya sembah. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa percaya adanya Tuhan lebih mudah ketimbang percaya kepada Tuhan.

Setelah kesadaran itu muncul, saya pun mulai meragukan iman saya, agama saya, bahkan kepada Tuhan sendiri saya menjadi ragu. Tiba-tiba saya tidak bisa menerima Kristus sebagai Tuhan begitu saja. Namun, pergulatan saya dalam mencari Kristus tentu saja tidak berhenti sampai disini. Saya sadar bahwa tidak semua orang telah sampai pada tahap pemahaman seperti ini. Sehingga sulit bagi saya untuk membagikan permasalahan ini pada seseorang.

Otomatis pencarian saya akan Kristus berjalan terus-menerus melewati hari-hari yang panjang. Selama hampir tiga tahun saya berjalan tanpa arah dan menganut Kristus yang sama seperti kebanyakan orang. Kristus yang hanya dipahami tanpa mengenal siapa Dia sesungguhnya. Akhirnya, sambil tetap mencoba bertahan hidup, saya juga mencari Tuhan.

Pemahaman saya mengenai Kristus muncul ketika saya menyadari bahwa Ia juga hadir di tengah dunia. Namun, tetap saja Kristus masih menjadi misteri yang selubungnya belum bisa saya singkapi. Berangkat dari pertanyaan Yesus kepada Petrus: “Menurutmu siapakah Aku ini?”, sekiranya pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan kita dalam memurnikan panggilan kita dalam mengikuti Kristus. Tentu saja pertanyaan ini tidak akan mungkin kita jawab dalam waktu singkat. Mencari Kristus membutuhkan seluruh hidup kita sampai pada akhirnya kita bisa mengimani-Nya. Siapakah Kristus menurut saya? Saya “tidak tahu”.

Maka, tepatlah yang dituliskan A. Setyawan dalam bukunya yang berjudul Orang Gila dari Nazaret bahwa semakin kita berusaha untuk mengenal Allah, semestinya kita sadar bahwa semakin dahsyatlah misteri Allah bagi kita, semakin banyak hal yang tidak kita mengerti, dan semakin sulit rasanya mengenal Allah[1].

Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti untuk berusaha mencari dan mengenal Kristus. Dia hadir ditengah-tengah kita dan menyampaikan kehendak-Nya disaat-saat yang tidak disangka-sangka. Tapi justru itulah kita harus selalu siap, sampai saatnya kita bisa menjawab pertanyaan Kristus dengan kata-kata kita sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Setyawan, A., Orang Gila dari Nazaret. . Jogyakarta: Kanisius, 2005, hlm.234.

Posted by: Depeholic on: September 30, 2009

Bila tak bersemangat lagi ,ingatlah akan Kristus yang tersalib, – itu cukup! Jangan memikirkan hal lain, semuanya sudah diatur oleh Allah. Di mana pun cinta kurang, sebarkanlah cinta, maka kamu akan menuai cinta! Pada pokoknya kita dinilai menurut cinta kita.” -Yohanes Salib-

Spiritualitas Yohanes Salib

Posted by: Depeholic on: September 30, 2009

johncrossYohanes Salib merupakan salah satu mistikus besar Gereja yang sangat istimewa.  Ia dikenal sebagai seorang mistikus, kontemplatif, teolog, dan seorang pembimbing rohani yang mahir dan mendalam. Tetapi sekaligus sebagai penyair yang luar biasa. Tulisan-tulisannya terhitung sebagai karya sastra yang penuh daya tarik bagi orang-orang yang mau mengembangkan hidup rohani maupun dari kalangan pengagum karya sastra. Tulisan-tulisannya yang terkenal adalah: The Ascent of Mount Carmel, The Dark Night of The Soul, The Spirititual Canticle, dan The Living Flame of Love.

Baca entri selengkapnya »

Author

Halaman

'Nyang Datang

  • 1,683 hits

Komentar Terakhir

penuai di Mencari Tuhan
pargodungan di Humble
Elisabeth Pitoy di Gereja St. Arnoldus Bekas…
hildegard della prad… di Gereja St. Arnoldus Bekas…
DESY di Gereja St. Arnoldus Bekas…
jjj

Flickr Photos

Jalur Papandayan yang penuh asap belerang

Foto bersama

Berdiri tegak

Menunjuk Dari jauh

Betapa kecilnya MAnusia

Retro MAn!

More Photos

twitter

Greenpeace SEA-Indonesia