Antarsubjektifitas Menurut M. Buber dan E. Levinas

Martin Buber

Corak hubungan fundamental antarmanusia menurut Martin Buber ialah Aku-Anda (I-Thou) dan hubungan Aku-benda (I-It). Menurut Buber dalam Aku-Anda hubungan timbale balik antarsubjektifitas menjadi penting. Relasi antara Aku dan Anda tidak akan menciptakan konflik karena didasari oleh hubungan yang setara, hubungan yang menghendaki yang lain dalam subjektifitasnya (hubungan Subjek-Subjek). Ketika manusia mengakui dan menghargai yang lain sebagai subjek, disanalah cinta kasih terwujud.

Hubungan dengan model ini ditandai dengan adanya keterbukaan dan sering kali membawa resiko yang lebih besar, karena bersifat total. Dengan memberikan diriku secara total kepada engkau, aku siap bila tidak ditanggapi. Dalam hubungan Aku-Anda diperlukan ruang interpersonal karena harus saling menjaga kekhasannya sambil tetap menjalin relasi. Sehingga manusia bisa menerima orang lain sebagai dirinya yang otentik.

Berkebalikan dengan hubungan Aku-Anda, hubungan Aku-benda lebih didominasi oleh kehendak menguasai hubungan ini dipandang negatif karena menilai yang lain sebagai objek yang bisa dikuasai (subjek-objek). Tentu saja dengan menganggap yang lain sebagai objek, maka hubungan yang tercipta adalah searah dan dapat diciptakan.

Bagi Martin Buber hubungan Aku-Anda akan membuka hubungan dengan Anda Mutlak (I-Thou Absolut).

Emmanuel Levinas

Menurut Levinas manusia pada dasarnya didorong untuk mencari yang lain. Menginginkan yang lain adalah menginginkan yang tidak ada dalam diri kita. Hubungan antarpersonal manusia didasari oleh hubungan Aku-“Yang Lain” (L’un pour l’autre) yang dilukiskan dengan “epifani wajah”. Artinya, aku mempunyai kewajiban kepada yang lain. Melalui pandangan ini, Levinas ingin menolak egologia Descartes. Bahwa realitas tidak dibentuk oleh rasio murni, tetapi dengan cara memandang manusia secara otentik.

Tetapi perlu diingat bahwa hubungan dengan yang lain adalah hubungan antar manusia yang asimetris. Kenapa? Karena subjek menurut Levinas adalah seseorang yang ditempatkan berada di bawah orang lain. “Yang Lain” yaitu sebagai pengada yang sama sekali tidak ditentukan oleh penalaran saya dan karenanya tidak terselipkan dalam totalitas rasional.

Struktur tersebut membuat aku menjadi unik dan tidak tergantikan. Aku tahu aku ada karena berbeda dengan yang lain. Dengan kata lain, aku menjadi sandera untuk orang lain. Namun, hubungan antara aku dengan yang lain bukan saja terjadi diantara dua orang saja, melainkan juga terhadap tampilnya orang ketiga. Dengan begitu aku menjadi semakin bertanggungjawab terhadap semua orang.

Bagi Levinas dalam hubungan aku dengan yang lain termanifestasi juga kemuliaan Allah. Berhadapan dengan sesama, adalah juga menemukan diri dihadapan Allah.

Daftar Pustaka

Lanur, Alex S. Aku Disandera: Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas. Jakarta: STF Driyarkara, 2000.

Sastrapratedja, M. Filsafat Manusia I. Jakarta: STF Driyarkara, 2010.


Teori Homeostasis Menurut Freud dan Adler

Manusia menurut Freud adalah mahluk yang seimbang. Hal ini  dikarenakan manusia memiliki Id, Ego, dan Superego. Manusia tidak dibatasi oleh naluri tertentu yang spesifik, akibatnya manusia dapat dibanjiri oleh semua rangsangan. Dorongan (drive) untuk memenuhi atau mendapatkan rangsangan tersebut muncul berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle) yang dimiliki oleh Id. Namun, sebagai manusia tidak bisa begitu saja mengikuti semua dorongan naluri yang dimiliki untuk memenuhi semua kebutuhan kita. Maka, disinilah peran ego san superego menjadi penting. Ego berperan dengan menunda ketegangan sampai ditemukannya pemenuhan secara objektif (reality principle). Prinsip ego ini juga didukung oleh adanya superego yang berfungsi untuk merintangi impuls-impuls id dan mendorong ego untuk mengganti tujuan realistis dengan moralitis. Bagi Freud, tahap homeostasis didapat berdasarkan kerja sama antara fungsi id dengan ego dan superego. Ketidakseimbangan dalam diri manusia dapat menyebabkan neurosis.

Sedangkan Adler berpendapat bahwa pada dasarnya manusia terlahir dengan inferioritas organ. Artinya, manusia terlahir dengan tubuh yang lemah dan inferior. Maka, manusia memiliki dorongan alamiah untuk mendapatkan sisi superioritasnya tersebut mengejar kesempurnaan dan keutuhan. Dorongan untuk mencapai sisi superioritas tersebut muncul melalui persepsi subjektif manusia yang tercermin dalam prilaku dan kepribadian yang membentuk gaya hidup tertentu. Menurut Adler, setiap manusia memiliki minat sosial (social interest) yang harus dikembangkan demi kemajuan setiap manusia. pengembangan minat sosial ini ditandai dengan terwujudnya kesempurnaan setiap orang, bukannya superioritas pribadi.

Dengan melihat pandangan kedua tokoh ini saya mengerti bahwa tubuh manusia memiliki suatu sistem yang berfungsi untuk memotivasi manusia. berdasarkan pandangan Freud dorongan itu dimotivasi pada titik keseimbangan yang berasal dari id, ego, dan superego. Serta terbentuk dari ketidaksadaran manusia. sedangkan menurut Adler motivasi tersebut muncul secara alamiah demi mencapai kesempurnaan berdasarkan hubungannya dengan masyarakat.

Daftar Pustaka

Lindzey Gardner, Calvin S. Hall. Introduction to Theories of Personality. United State: John Wiley and Sons, Inc, 1985.


BENDERA

Bendera bangsaku adalah serpihan sejarah penuh luka.

Darah para pahlawan diperas, lalu mewarnai sebagian merahnya.

Kesucian semangat juang dan harapan akan kemerdekaan mereka mewarnai sebagian putihnya.

Dan….

Sumpah serapah kaum muda di bawah langit memberikan jalinan kain penuh makna.

Kini, bendera bangsaku adalah serpihan penuh duka.

Merah tidak lagi semerah darah dan putih tidak lagi putih.

Di angkasa bendera bangsaku tidak berkibar gagah, tapi lemah tanpa daya.

Bendera bangsaku adalah kumpulan derita dan duka, tidak bangga sewaktu meneriakkan kata…

MERDEKA!!!


Belajar dari Iwan Fals

Ketika sedang melihat-lihat koleksi lagu-lagu, saya menemukan kumpulan lagu-lagu Iwan Fals yang saya simpan. Saya ingat awal ketertarikan saya dengan Iwan Fals adalah lirik lagunya yang berbeda dengan penyanyi-penyanyi lain. Di saat orang menggembar-gemborkan cinta, Iwan Fals meneriakkan kritik terhadap keadaan sosial-politik negara ini. Lagu-lagu musisi kreatif ini kembali mengingatkan saya pada keadaan bangsa ini yang semakin carut-marut. Seakan membangunkan saya dari alunan musik masa kini yang cenderung mengobral cinta.

Saya teringat akan sebuah lagu yang berjudul “Sarjana Muda” yang menurut saya masih sangat relevan untuk kita renungi di masa yang sudah maju ini. Saya tulisakan kembali lirik lagunya supaya kita bisa berkaca bersama.

Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Didepan halaman sebuah jawatan
Terjenuh lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan
Tak perduli berusaha lagi
Namun kata sama kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap… maaf ibu… Continue reading


Mengenal Karl Rahner

Extra ecclesia nulla salus” (Di luar Gereja tidak ada keselamatan) merupakan ajaran Magisterium Gereja yang dipegang Gereja Katolik sejak berabad-abad lalu. Ajaran ini tidak mengakui adanya keselamatan dari agama-agama lain selain agama Katolik itu sendiri, sebagaimana hasil Konsili Lateran dan dalam Unam Bulla Sancta, sebuah dekrit resmi dari Paus Bonifasius VIII pada tahun 1302.

Seiring perjalanan waktu, dunia semakin berkembang dan keberagaman mulai diterima oleh banyak pihak. Menyadari hal ini Gereja Katolik cepat-cepat mengadakan Konsili Vatikan II dan menghasilkan ajaran yang berkebalikan dari ajaran sebelumnya yaitu di luar Gereja terdapat keselamatan. Ajaran baru ini benar-benar memberikan nafas segar bagi hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama lain.

Tentu saja banyak teolog handal dari seluruh dunia yang berkumpul dalam Konsili Vatikan II untuk memikirkan masa depan Gereja Katolik. Namun, dari sekian banyak teolog yang hadir dalam konsili itu, nama Karl Rahner disebut-sebut sebagai pemikir yang paling berpengaruh dan paling berperan dalam menciptakan perubahan besar tersebut. Tidak hanya itu, pemikirannya yang menakjubkan menghantar dirinya menjadi teolog terbesar di abad ke-20.

Mengenal Karl Rahner

Karl Rahner lahir pada tanggal 5 Maret 1904 di Freiburg im Breisgau, Jerman. Dia dibesarkan dalam sebuah keluarga Katolik sederhana yang cukup religius. Pada usia 18 tahun, ia mengikuti kakaknya, Hugo Rahner untuk bergabung dengan Serikat Yesus pada tahun 1922 dan menjalani masa pendidikan di Austria dan Jerman. Continue reading


Mari Menyelam Sampai Dasar

Dalam mata kuliah Filsafat Manusia dijelaskan bahwa salah satu hal yang membedakan manusia dari binatang adalah kemampuan manusia untuk mengambil jarak dari dirinya sendiri. Hal ini terlihat dari cara kita mengintrospeksikan diri. Kemampuan ini membuat manusia menjadi mahluk yang selalu berkembang kearah yang lebih “maju”. Manusia yang tidak berkembang dan stastis adalah orang mati.

Namun, dalam pengalaman sehari-hari sering kita merasa bahwa hidup kita tidak berkembang sebagaimana mestinya dan kita iri pada perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan orang lain. Hal penting yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa hidup manusia kurang berkembang, bukan karena kurang kehendak baik (good will), tapi kurang ingatan (memory).

Ada sebuah perupamaan yang indah untuk menjelaskan bagaimana supaya hidup kita bisa lebih berkembang. Jika kita melihat nelayan yang pergi mencari ikan, tentu saja mereka akan bertolak ke tempat yang lebih dalam. Menantang badai dan kematian demi mendapatkan ikan. Namun, justru ditempat itulah mereka dapat menemukan banyak ikan, harta bagi para nelayan. Biasanya kedalaman itu sinar matahari sudah tidak bisa menembusnya lagi. Begitu gelap dan dingin, karena memang kedalamannya menyembunyikan misteri yang tidak seorang pun tahu. Continue reading


Intoleransi Prancis

Pasca Edikt Nantes

Terpilihnya Henry IV dari wangsa Bourbon yang seorang Calvinis menjadi raja, rupanya menjadi titik tolak pemulihan perdamaian antara pengikut Calvin (Huguenots) dengan penganut Katolik di Prancis. Pada tanggal 13 April 1598, Raja Henry IV mengeluarkan sebuah maklumat yang mendukung diadakannya toleransi beragama di seluruh Kerajaan Prancis yang dikenal sebagai Edikt Nantes. Maklumat ini memberikan angin segar bagi para pengikut Calvin untuk menjalankan ibadat sesuai dengan keyakinan mereka, kecuali di beberapa tempat[1].

Tidak hanya itu, mereka juga memperoleh hak-hak sipil dan politik secara penuh. Negara juga memberikan subsidi bagi sekolah-sekolah Protestan dan memberikan 200 kota untuk dipegang oleh Huguenots, termasuk benteng-benteng seperti La Rochelle. Perkembangan ini benar-benar memberikan kesempatan terhadap para Huguenots untuk hidup lebih baik dan terjamin. Sepeninggal Henry IV, kaum Huguenots merupakan kelompok minoritas di Prancis. Tetapi untuk masa lima puluh tahun berikutnya, lebih banyak para bangsawan yang menjadi Huguenots dan dengan demikian memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan ekonomi masyarakat Prancis.

Continue reading


Kenapa Manusia Tidak Pernah Puas?

Suatu hari seorang teman bercerita kepada saya mengenai acara liburannya. Ia mengeluhkan bahwa orang tuanya selalu mengajaknya berlibur ke Hong Kong. Padahal ia sudah bosan liburan ke Hong Kong dan ingin berlibur ke negara lain. Mennaggapi ceritanya saya hanya bisa tersenyum dan saat itu saya merasa bahwa senyuman adalah jawaban yang paling baik.

Namun, dalam hati kecil saya tercetus sebuah pertanyaan: Mengapa manusia tidak pernah puas? Dalam kasus teman saya ini, saya merasa bahwa bisa berlibur ke Hong Kong adalah suatu rahmat yang luar biasa. Tentu saja karena saya belum pernah ke luar negeri barang satu kali pun. Continue reading


Siddhartha dan Semut

Siddhartha dan Semut


Alkisah, suatu kali ketika Siddhartha duduk di atas sebongkah batu bulat di taman istana. Ia terpesona dengan sekoloni semut hitam yang sedang menguasai sarang rayap. Duduk berlama-lama di atas batu taman sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dalam hidup pangeran muda ini. Setiap hari selalu saja ada yang mempesonanya. Seperti arak-arakan awan-gemawan yang berbaris rapi menunggu kedatangan sang angin yang menjatuhkan butiran-butiran air ke permukaan bumi untuk membantu suatu kehidupan baru. Atau seekor lebah yang asik menghisap madu bunga mawar merah, namun tidak menyadari bahwa ada mahluk lain yang mengintip di balik daun untuk memangsanya. Atau bahkan memperhatikan kepompong yang bergayut pada sebuah ranting pohon. Ia memperhatikan kepompong tersebut berhari-hari sampai pada akhirnya seekor kupu-kupu terbang bebas dari dalamnya. Dengan susah payah kupu-kupu itu mencoba mendobrak cangkang kepompongnya untuk keluar sebagai mahluk baru. Menghirup udara segar bukan lagi sebagai ulat hijau yang menjijikkan, tapi sebagai kupu-kupu indah dengan dengan berbagai warna. Ia terbang melenggak-lenggok menunjukkan keindahan dirinya. Pangeran muda itu tersenyum setiap membayangkan kalau saja dirinya bisa keluar dari dirinya sendiri seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Terbang dengan genit mencari bunga-bunga bermandikan embun pagi penuh madu.  Namun, kali ini pandangannya tertuju pada koloni semut tersebut.

Tiba-tiba Prajapati, bibi sang pangeran, datang menghampiri Siddhartha yang masih terpesona dengan penemuan barunya. Prajapati menghentikan langkahnya di samping Siddhartha, memperhatikan hal yang sama dengan keponakannya.

“Siapa yang menang?” tanyanya.

“Itu tidak penting.” Jawab Siddhartha halus.

Siddhartha menyaksikan seekor semut tentara yang menggotong rayap muda dengan capitnya yang besar. Jalan semut itu terhalang kerikil besar. tidak peduli dengan beban yang ia bawa dua kali lipat dari besar tubuhnya, ia tetap mencoba memanjat kerikil tersebut yang ukurannya lima kali lebih besar dari tubuh si semut. Namun rupanya jalan yang ia tempuh terlalu curam, sehingga sedetik kemudian justru semut itu terpelanting jatuh. Si semut memanjat lagi, terpelanting lagi, memanjat lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Bodoh! Harusnya ia memilih untuk tidak melalui batu itu,” Prajapati berkomentar.

“Yang perkasa tidak memilih jalan memutar.” Siddhartha menggeleng.

“Memang semut seperkasa apa?” Lanjut Prajapati penuh keheranan.

“Semut itu menganggap dirinya perkasa. Itu yang penting.”

“Aku bisa menginjaknya. Kalau begitu dia seperkasa apa?” Prajapati tidak mau kalah.

Sambil tersenyum, ia menatap bibinya, lalu mengucapkan sesuatu, “Tuhan bisa menginjak ayahku, tapi beliau tetap menganggap dirinya perkasa.”

“Itu tidak sama!.” Prajapati membalasnya dengan cepat.

Siddhartha kembali tersenyum, kemudian ia mengangkat semut itu. Sambil menatap mainan barunya, ia berkata dengan tenang dan halus.

“Kalau kau menganggap dirimu perkasa, hanya itu yang penting. Tidak ada seorangpun sungguh-sungguh perkasa.”

Mendengar penjelasan Siddhartha, Prajapati tersentak tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Nb:

Kisah ini benar-benar menginspirasikan saya. Sebenarnya ide cerita ini berasal dari sebuah buku yang berjudul “Buddha” karya Deepak Chopra. Namun, karena saya sedang belajar menulis, saya mencoba menuliskan kisah ini dengan kata-kata saya sendiri dengan tidak mengurangi esensi dari kisah yang menakjubkan ini. Selamat menikmati.


Bunuh Diri Di Indonesia

Bunuh Diri Di Indonesia


Bunuh Diri Sebagai Tren Baru

Dalam kultur Indonesia, bunuh diri merupakan hal asing dan sangat tabu untuk dilakukan. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sungguh-sungguh menunjukkan fakta yang sangat mengejutkan. Bunuh diri seakan-akan menjadi suatu tren yang mulai marak kita jumpai di Indonesia. Di Gunung Kidul pada tahun 1999 kasus bunuh diri ada 39 orang, pada tahun 2002 ada 29 orang, pada tahun 2003 ada 26 orang dan pada tahun 2004 ada 31 orang. Di DKI Jakarta pada tahun 2003 berjumlah 62 orang sementara pada tahun 2002 hanya mencapai 19 orang.[1]

Besarnya angka kematian karena bunuh diri di Indonesia kerap kali masih dianggap bukan masalah yang serius. Padahal sesungguhnya melakukan bunuh diri merupakan keputusan tertinggi yang diambil oleh seorang manusia untuk menghabisi hidupnya sendiri. Yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa keputusan ini diambil ketika seseorang dalam keadaan sadar dan tidak dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kasus bunuh diri yang kita jumpai mulai merengkuh generasi muda bangsa ini. Generasi muda yang merupakan cerminan masyarakat dan harapan bangsa ke depan, ternyata malah frustasi dan sangat mudahnya melakukan bunuh diri. Walaupun tindakan mereka tidak bisa dikatakan mewakili mental remaja kita secara umum, namun fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa remaja bahkan anak dibawah umur harus disingkapi secara serius.

Seperti yang diberitakan dalam koran harian Pikiran Rakyat bahwa dalam seminggu ada lima orang tewas karena gantung diri. Alasan mereka pun sangatlah beragam, ada yang karena tidak mampu membayar uang SPP, ada yang merasa tidak dipedulikan orang tuanya, dan ada pula karena tidak naik kelas.  Seperti Rahmat Fauzi, seorang pemuda berusia 17 tahun, nekat bunuh diri karena dikucilkan oleh teman-teman di lingkungan rumahnya. Aksi nekat ini dilakukannya di rumahnya sendiri.[2]

Sebenarnya faktor apa yang mendorong orang berani memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri? Dari berbagai ulasan yang pernah saya baca, keadaan ekonomi yang tak pernah membaik dari tahun ke tahun membuat sebagian besar rakyat bangsa ini putus asa. Pengeluaran yang besar tidak disertai dengan pemasukan yang besar, sedangkan tekanan hidup semakin hari semakin berat rasa-rasanya tak tertangguhkan lagi. Ketika seseorang dihadapkan pada keadaan ini, lama-kelamaan tingkat stress dan depresi yang mereka terima semakin berat. Pada akhirnya mereka merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memutuskan untuk mati. Bahkan tak jarang terjadi kasus bunuh diri yang melibatkan seluruh keluarga.

Mengapa Bunuh Diri

Bunuh diri sebenarnya tidak mencari maut, tapi dialami sebagai jalan penyelesaian masalah-masalah yang mendesak dalam hidup. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata bunuh diri memiliki arti sengaja mematikan diri sendiri. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 138).

Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, berpendapat bahwa setiap orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini disebut sebagai “integrasi sosial”.[3] Menurutnya, tinggi-rendahnya tingkat integrasi sosial dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri.

Dalam bukunya yang berjudul “Bunuh Diri”, Durkheim menuliskan bahwa masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingkat integritas rendah. Berdasarkan tingkat integrasi sosial yang berbeda-beda tersebut, Durkheim mengkategorikan kasus bunuh diri ke dalam tiga tipe, yaitu:

  1. Altruistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimiliki terlalu kuat. Artinya adalah bahwa seseorang yang memiliki tingkat integritas kelompoknya tinggi, maka akan semakin tinggi pula kerelaan anggota berkorban untuk kelompoknya dengan cara bunuh diri. Misalnya, seperti tentara Kamikaze Jepang pada Perang Dunia II yang rela menabrakkan pesawatnya ke daerah pertahanan musuh.
  2. Egoistic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri karena integrasi sosial kemasyarakatan yang dimilikinya lemah. Hal ini dikarenakan individu mengalami krisis kepercayaan terhadap masyarakat dimana ia tinggal. Sehingga  ia merasa tidak ada tempat lain lagi untuk berpijak kecuali rasa kesepian yang begitu menekan. Kasus bunuh diri ini sering terjadi pada anak remaja yang mengalami rasa malu atau rasa takut yang berlebihan. Misalnya seperti seorang anak yang gantung diri karena malu belum bisa membayar uang SPP.
  3. Anomic Suicide. Orang-orang dalam kelompok ini melakukan bunuh diri dikarenakan situasi eksternal yang menekan individu, seperti tekanan ekonomi, politik, dan psikososial lainnya.

Menurut Durkheim jika kita ingin mencari penyebab suatu kasus, maka harus

mempelajari, mengamati situasi, dan kondisi yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa tersebut lalu membandingkan dengan situasi dan kondisi lain yang melatarbelakangi mengapa peristiwa itu tidak terjadi.[4]

Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya.

Data ini semakin diperkuat dengan adanya penuturan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno, pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (8/10). Ia mengatakan bahwa faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup.[5]

Jelas ini sangat memprihatinkan, apalagi latar belakang para pelaku bunuh diri karena sakit yang tak kunjung sembuh ada 5 kasus, terhimpit masalah ekonomi 25 kasus, dan frustasi ada 9 kasus. Yang membuat miris, justru terbesar dilakukan petani sebanyak 22 kasus, swasta 10 kasus, buruh dan pelajar masing-masing 5 dan dua kasus.

Sementara untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta, dan seorang akibat depresi.

Tentu saja perubahan-perubahan yang mendadak terjadi dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi yang parah pada umumnya berkaitan dengan meningkatnya kasus bunuh diri. Masalah kemiskinan biasanya berdampak pada meningkatnya frustasi karena keinginan-keinginan yang diperlukan oleh masyarakat tak bisa dipenuhi. Akibatnya angka bunuh diri meningkat.

STOP Bunuh Diri

Berdasarkan data-data dan teori yang tertuang pada paragraf di atas, jelas sekali bahwa kemiskinan di Indonesia adalah faktor utama yang membuat orang nekat memutuskan untuk bunuh diri.  Apa lagi ditambah dengan adanya kerenggangan hubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Orang melakukan bunuh diri karena merasa tidak diperhatikan, tidak dianggap dan merasa tidak berarti lagi, sehingga menurutnya tidak ada gunanya lagi ia hidup.

Untuk itu kita perlu mengadakan upaya pencegahan terhadap pelaku bunuh diri, sehingga fenomena ini tidak menjadi tren di Indonesia. Kalau begitu siapa yang bertanggung jawab untuk mengupayakan pencegahan tindakan bunuh diri tersebut? Apakah masyarakat, pemerintah, atau orang yang melakukannya. Kalau dilihat dari latar belakang permasalahan bunuh diri di atas, memang ketiga-tiganya patut bertanggung jawab. Karena hubungan sosial yang terjalin antara masyarakat, negara, dan pelaku dalam suatu integrasi sosial adalah suatu kekuatan maha dasyat yang dapat melindungi masyarakat dari perasaan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Oleh sebab itu mereka wajib mengusahakan upaya ini secara optimal

Daftar Pustaka

Chang, William., Bioetika: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009.

Durkheim, Emile., Suicide. New York: The Free Press, 1966.

Rais, Muhammad., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol. 01 (2007): 65-88.

Wibowo, Tri Santoso., 50.000 Orang Indonesia Bunuh Diri. 2007. http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (Diunduh pada 28 November 2009).


[1] http://berbagi.net/content/view/627/137/ (diunduh pada tanggal 29 November 2009).

[2] Pikiran Rakyat 26/7/2006

[3] Anonim., Bunuh Diri Tren Baru Di Kalangan Remaja. Jurnal Keluarga Vol.01 (2007): Hlm.160.

[4]Rais, Muhammad., Ibid,  Hlm.67.

[5] http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita (diunduh pada tanggal 28 november 2009)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.